Syahdan (2)

Lanjutan dari Syahdan…

Saat itu nalurikulah yang mengambil alih. Aku hobi membaca novel, ingin bekerja di rumah, memimpikan punya laptop berwarna merah, dan menurutku aku bisa menerjemahkan karya berbahasa asing. Kuputuskan: aku ingin menjadi penerjemah novel.

Beruntung kantor tempatku bekerja membuka peluang bagi para pekerjanya yang mendapatkan Skema untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan minat masing-masing yang bisa bermanfaat untuk berkarya setelah ‘pensiun’. Ternyata semesta berkonspirasi membukakan peluang bagiku. Tepat pada saat itu ada kursus penerjemahan yang sedang menerima pendaftaran peserta baru. Kursusnya bukan sembarang kursus. Ada ujian yang harus dilalui calon peserta, dan walaupun jumlahnya tidak banyak, tidak semua peserta ujian lulus. Para pengajarnya adalah praktisi penerjemahan dan juru bahasa. Selain ilmu tak ternilai yang kudapat dari para pengajar, aku mendapat kesempatan untuk sekilas mencicipi seperti apa sih profesi penerjemah itu. Dari sinilah aku mendengar tentang Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan mailing list Bahtera: Bahasa dan Terjemahan Indonesia yang rajin mengadakan pertemuan berkala.

Aku lulus dengan nilai A, dan uang pesangonku masih banyak. Sempat terpikir olehku untuk menghabiskan sisa hidupku dengan menerjemahkan secara suka-suka di kafe atau di mana saja, membayangkan menjadi J.K. Rowling atau Carrie Bradshaw. Hal pertama yang kulakukan sepulang kantor pada hari terakhir bekerja adalah membeli laptop (berwarna merah!) dan berbagai kamus. Setelah itu aku berjalan-jalan ke luar negeri – yang karena tidak ada hubungannya dengan kisah ini, lebih baik kita skip saja daripada banyak yang tergoda ingin ke negeri-negeri seberang.

Melalui jejaring sosial, aku mendapatkan klien pertama. Dari Aceh! Proyeknya tidak besar, tapi cukup besar untuk menumbuhkan kepercayaan diriku. Setelah itu, seorang teman memperkenalkanku dengan temannya yang sedang membutuhkan jasa penerjemahan dokumen. Ditambah lagi, teman kursus yang menjadi editor di sebuah penerbitan tiba-tiba memberikan order untuk menerjemahkan komik. Life is good!

Kompak-010912-2-450
Bersama Mas Salahuddien Gz, Editor Penerbit Dolphin di acara pertemuan HPI.
Foto: Arfan Achyar.

Aku menghadiri pertemuan komunitas milis Bahtera dan HPI. Di sana aku bertemu dengan banyak penerjemah buku sungguhan. Aku ‘memeras’ informasi dari mereka tentang bagaimana caranya agar bisa seberhasil mereka, dan mendapatkan tips-tips bagaimana caranya agar dipercaya oleh calon pemberi kerja untuk mengerjakan order. Setelah mengantongi pengalaman menerjemahkan berbayar sesuai persyaratan, aku bergabung menjadi anggota HPI. Aku mulai membidik sasaran utamaku: penerbit. Ternyata, persaingannya sangat ketat, Jenderal! Tak terhitung banyaknya aku mengirimkan surat lamaran dan contoh terjemahan. Ada yang ditolak, ada yang sama sekali tidak dijawab, ada juga yang diterima tapi order tak kunjung datang. Aku banyak belajar dari seorang penerjemah novel yang sering kebanjiran order. Berkat beliau yang baik hati inilah aku mengenal beragam selingkung, diksi, dan yang paling penting: masukan atas hasil penerjemahanku. Namun, rupanya bisa menerjemahkan dengan baik saja belum cukup untuk dilirik oleh penerbit. Oleh karena itu, tercetus ide untuk mencatatnya di sini. Semoga bisa bermanfaat untuk yang membutuhkannya.

Tidak selalu manis. Baca selengkapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: