Tes Sertifikasi Nasional untuk Penerjemah

Dulu, saat mengisi formulir pendaftaran di ProZ, pada bagian pasangan bahasa yang dikuasai, aku diminta mengisi bidang ‘credentials.’ Tertulis:

You can report any professional credentials, certifications or accreditation you have earned from recognized authorities. By declaring a credential, you are asserting that the credential is real and valid.

Baru-baru ini aku iseng mengisi formulir pendaftaran sebuah agen penerjemahan internasional dan ditanya hal serupa. Memang tidak wajib, tapi rasanya ada yang kurang melihat bidang itu dibiarkan kosong. Rasanya hasil IELTS General Test yang kudapatkan beberapa tahun silam tidak cocok untuk bidang ini. Terpaksa kukosongkan saja.

Mbak Dita, Pak Eddie, Pak Hendarto & Ibu Emma.
Foto hasil jepretan Arfan Achyar.

Terpikir olehku untuk mengikuti tes kualifikasi di bidang penerjemahan. Sayangnya Ujian Kualifikasi Penerjemah (yang konon sudah tidak diselenggarakan lagi) hanya boleh diikuti oleh orang yang memiliki KTP DKI. Pilihan lainnya adalah Tes Sertifikasi Nasional (TSN) yang diselenggarkan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Karena ingin tahu apa sih TSN itu, kuputuskan untuk menghadiri acara HPI Komp@k yang ‘Mengupas Tuntas TSN’ pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012 di PDS HB Jassin, Cikini. Narasumbernya Pak Hendarto Setiadi dan Ibu Emma Nababan, para penggagas TSN.

TSN yang diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 2010 ini berangkat dari adanya kebutuhan para penerjemah untuk memenuhi permintaan sebagian pemberi kerja yang menginginkan semacam bukti kompetensi di bidang penerjemahan. Masih banyak yang keliru dan mencari penerjemah tersumpah padahal dokumen yang hendak diterjemahkan bukan melulu teks hukum. Oleh karena itu, HPI membentuk Komite Kompetensi dan Sertifikasi (KKS) untuk menjajaki kerja sama dengan berbagai lembaga terkait, seperti lembaga pendidikan, berkonsultasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan lain-lain.

Peserta TSN adalah penerjemah/juru bahasa profesional anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (Anggota Penuh). Biaya tes Rp1.000.000,- dan pendaftaran melalui Sekretariat HPI (sekretariat@hpi.or.id).

Yang diuji dalam TSN:

1.  Kemampuan menerjemahkan

Ada dua teks yang harus diterjemahkan, teks wajib dan pilihan.

Wajib Pilihan
Topik: umum. Topik: teknologi/bisnis/sastra/sains/sosial/hukum.
(Tidak mengandung istilah teknis khusus bidang tertentu.)
300 kata. 600 kata.
Waktu 1 jam. Waktu: 2 jam 30 menit.

Kriteria penilaian: pemahaman, keakuratan, ragam bahasa dan tata bahasa.

2.  Pemahaman Kode Etik HPI

Bagian ini berupa esai tentang tanggapan peserta terhadap masalah yang dihadapi pada saat menerjemahkan sehubungan dengan kode etik penerjemahan yang disusun oleh HPI. Jangan khawatir, peserta tes tidak akan menghadapi pertanyaan semisal ‘Sebutkan bunyi pasal xx ayat xx Kode Etik HPI.’

Ada tiga kali waktu istirahat 15 menit di antara setiap bagian tes.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Peserta tidak boleh menggunakan laptop atau alat elektronik lainnya (termasuk telepon genggam).

Panitia menyadari bahwa kini kita terbiasa bekerja memakai komputer. Akan tetapi, keputusan ini diambil dengan alasan keterbatasan biaya dan untuk mencegah praktik kecurangan. Karena tes ini bersifat nasional, tidak mungkin panitia bisa menyediakan fasilitas komputer yang sama di setiap daerah. Jika peserta dibolehkan memakai komputer jinjing masing-masing, panitia tidak bisa mengendalikan program apa saja yang diinstal di setiap komputer peserta.

  • Panitia menyediakan kertas folio bergaris, dan pulpen dengan warna berbeda. Tinta hitam untuk menerjemahkan. Tinta merah untuk koreksi. Jika ada kesalahan (atau mendadak mendapat ilham kata/frasa yang lebih baik setelah telanjur ditulis) kata/frasa tersebut dicoret dan dikoreksi dengan tinta merah. Tidak diperkenankan menggunakan penghapus atau alat korektor (misalnya Tip-ex).

Ibu Ema berseloroh, tim penguji sudah ahli dalam membaca tulisan tangan namun Pak Hendarto menekankan walau begitu diharapkan peserta berusaha menulis sebaik-baiknya untuk memudahkan tugas penguji. Sungguh, ini beban besar bagiku karena jika terjadi risiko salah tulis peserta juga yang rugi.

  • Peserta diperbolehkan membawa kamus dan materi pendukung lain dalam bentuk cetak.

Hmmm… Selain menyiapkan diri berlatih menulis tangan, harus latihan fisik juga nih agar kuat mengangkat koper berisi kamus. Menurut cerita salah seorang teman yang telah mengikuti TSN, dia sama sekali tidak sempat membuka-buka kamus karena waktu yang disediakan terasa sempit, kemungkinan besar karena harus mengerjakannya dengan ditulis, bukan ditik.

  • Jumlah peserta minimal 20 orang, maksimal 30 orang.

Sebenarnya, panitia TSN tidak menutup kemungkinan menyelenggarakan tes untuk pasangan bahasa selain bahasa Inggris – Indonesia dan sebaliknya atau sertifikasi juru bahasa, dengan syarat kuota minimum harus dipenuhi.

  • Hasil tes disampaikan kepada peserta langsung, tanpa diumumkan secara terbuka, hanya berupa pernyataan lulus atau tidak lulus.

Masing-masing jawaban peserta tes diperiksa oleh tiga penguji. Para calon peserta tes (baca: hadirin yang hadir di acara) rata-rata punya keinginan yang sama yaitu mendapat informasi tentang bagaimanakah metode penilaiannya. Apakah kesalahan tulis mengurangi penilaian, misalnya. Selain itu, kami pikir akan sangat bermanfaat bagi kami jika bisa mendapatkan hasil terjemahan yang sudah diberi penilaian, terutama jika dinyataakan tidak lulus, agar bisa memperbaiki diri. Menjawab keinginan tersebut, disampaikan bahwa HPI adalah himpunan profesi, bukan lembaga pendidikan, jadi tidak wajib memberikan hasil penilaian. Aku jadi ingat SNMPTN yang memang tidak pernah mengumumkan hasil penilaian ujian, hanya keputusan apakah calon mahasiswa diterima atau tidak di perguruan tinggi yang diminati.

Teringat saat hendak lulus SMA beberapa *uhuk-uhuk* windu yang lalu, kami diberi wejangan tentang strategi menghadapi UMPTN oleh guru. Jawaban benar plus satu, jawaban salah minus satu, kalau tidak diisi kosong. Makanya, kalau ragu-ragu lebih baik dikosongkan saja. Kurasa aku juga akan lebih percaya diri mengikuti TSN jika mendapatkan kejelasan tentang metode penilaian agar tidak ‘Terima Saja Nasib(mu)’, meminjam istilah Mbak Indriastuti Salim. Disinggung juga kemungkinan peserta yang tidak lulus tes bisa naik banding, dan mekanismenya masih digodok di kuali KKS.

Ditegaskan juga bahwa penguji bukan anggota KKS. Mereka orang-orang tepercaya, memiliki kompetensi di bidangnya dan sama sekali tidak tahu siapa pemilik jawaban tes yang dihadapinya. Satu-satunya orang yang tahu siapa pemilik lembar jawaban itu hanyalah orang yang menerima pendaftaran. Saat diminta kisi-kisi, Pak Hendarto dan Bu Emma juga tidak bisa menjawab karena mereka tidak turut menguji jawaban peserta tes. Menurut Pak Indra Listyo yang telah mengikuti UKP, TSN dan bahkan NAATI (National Accreditation Authority for Translators and Interpreters Ltd) TSN memiliki kelengkapan yang patut diacungi jempol. Pak Indra juga berbagi pengalamannya mengikuti ketiga tes kompetensi penerjemahan yang berbeda-beda penyelenggara itu.

  • Sertifikat Nasional yang diperoleh peserta yang lulus TSN berlaku secara nasional selama 5 (lima) tahun.

Sepertinya pas membahas ini aku sedang ke belakang. Gara-gara melihat di meja saji ada lunpia yang dibawa Mas Rudi Hendarto, aku berlama-lama di sana jadi tidak menyimak pembahasan.

Dibahas juga masalah hukum yang membuat pikiranku semakin melayang ke pepes di meja prasmanan. Apakah gerangan isinya? Oncom, jamur, tahu atau…. peda!? Ah, pikirku, logistik dulu baru logika. Aku pun melipir ke belakang untuk pasang kuda-kuda di dekat meja prasmanan jadi begitu suara riuh rendah tepuk tangan mereda pertanda acara gelar wicara usai, aku sudah memimpin barisan antrean mengambil makan siang :D.

Aku yang berkaus putih.

Dalam membeli sesuatu, aku kerap memutuskan berdasarkan kebutuhan (walau tak jarang juga berdasarkan keinginan ;)). Misalnya, saat kubutuh WordFast untuk mempermudah penerjemahan, aku beli lisensinya. Sama halnya dengan Trados Studio 2011, aku membelinya karena kalau tidak punya aku tidak bisa menggarap proyek klien. Kukira, kalau sudah butuh TSN, aku pasti akan mengikutinya. Kemungkinan besar aku belum siap untuk mengikuti TSN  yang diselenggarakan tanggal 24 November 2012. Aku masih harus menabung dan berlatih menulis tangan. Kalau soal angkat beban in sya Allah sudah terlatih berkat acro yoga.

Rasa hormatku terhadap pengurus HPI dan KKS kian tinggi mengingat walaupun sangat sibuk mereka bersedia meluangkan waktu yang berharga untuk mengayomi himpunan dan melahirkan TSN. Acungan jempol juga untuk penyelenggara HPI Komp@k karena berhasil menyelenggarakan acara yang dipadati 92 peserta ini. Semoga order tetap lancar jaya!

Simak juga tulisan Mas Wiwit Tabah Santoso yang mengikuti TSN perdana tahun 2010.

Laporan pandangan mata di web HPI, tulisan Mila K. Kamil.

Iklan

15 thoughts on “Tes Sertifikasi Nasional untuk Penerjemah

Add yours

      1. Iya, aku pun belum siap ikut tahun ini. Emmmm… jadi pingin nanya, dari penjelasan kemarin, karena sebagian besar pemberi kerjaku selama ini terbatas pada lingkungan penerbit, bagaimana kedudukan TSN ini untuk penerjemah buku, mba?

        1. Kemarin enggak dibahas pandangan penerbit terhadap TSN. Itu harus ditanyakan kepada pihak penerbit. Tapi, karena selama ini belum pernah ada penerbit yang meminta kredensial seperti perusahaan-perusahaan bukan penerbit, aku menduga mereka lebih percaya pada hasil tes penerjemahan. Ini pendapat pribadi lho, boleh didebat. (Makanya aku ngerasa belum perlu ikut tes tahun ini hehehehe)

  1. Tgl 24 November yah. Weleh weleh, ampun deh. Semua peningkatan kompetensi memang sarat dana! (Mau Teacher Training yoga juga biayanya selangit!) Tapi semoga worth the money, which it is.

    1. Yang dimaksud hak dan wewenang penerjemah tersumpah itu apa saja ya, sebenarnya?
      Yang jelas, pemegang sertifikat TSN hukum berkompeten untuk menerjemahkan dokumen hukum, seperti kontrak, ijazah, dll. Penerjemah tersumpah juga begitu, berkompeten untuk menerjemahkan dokumen hukum.

  2. salam kenal mba dina.. saya baru bercita-cita jadi penerjemah.. mudah-mudahan cita-cita ini dilancarkan amiiinn..

  3. Mba, dalam ujian TSN penerjemah apakah materi yang diujikan juga ada verbal yaa ? Karena sempat sy baca..untuk HPI materi ujiannya ada tulisan dan lisan..yaitu menerjemahkan pidato berdurasi 10 menit secara verbal..mohon infonya, terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: