Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Logistik dulu, baru logika.

Apa yang terjadi saat penerjemah, editor dan penulis ‘dikurung’ untuk menerjemahkan novel?

Tanggal 8-12 Oktober 2012, Inisiatif Penerjemahan Sastra yang merupakan inisiatif Eliza Vitri Handayani mengadakan lokakarya penerjemahan yang terdiri dari 3 kelompok:

  1. Dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, dipimpin oleh penulis Gustaaf Peek dan penerjemah Widjajanti Dharmowijono.
  2. Dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris, dipimpin oleh penulis Gustaaf Peek dan penerjemah David Colmer, dan penerjemah Anton Kurnia.
  3. Dari bahasa Norwegia ke bahada Indonesia melalui bahasa Inggis, dipimpin oleh penulis Kjersti Annesdatter Skomsvold, penerjemah Kari Dickson, dan Penerjemah Arif Bagus Prasetyo.

Kelompok 2 peserta lokakarya penerjemahan sastra (bahasa Belanda – Inggris – Indonesia) terdiri dari 11 penerjemah yang dipimpin oleh editor andal, Anton Kurnia, didampingi penerjemah bahasa Belanda-Inggris, David Colmer, serta sesekali disambangi penulis novelnya, Gustaaf Peek. Lokakarya Penerjemahan Sastra yang diselenggarakan oleh Inisiatif Pusat Penerjemahan Sastra Indonesia ini memakai format yang sama dengan yang diselenggarakan oleh British Centre for Literary Translation di Norwich, UK. Peserta diberi naskah novel berbahasa Inggris, terjemahan dari novel ‘Dover’ yang berbahasa Belanda, untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dover mengisahkan Marlon alias Tony, WNI keturunan Cina yang kemudian menjadi imigran gelap di Belanda setelah melarikan diri dari amuk massa saat terjadi kerusuhan tahun 1998. Ayah Marlon pendatang yang berasal dari Cina, ibunya orang Solo. Mereka punya toko yang cukup laris sebelum bisnis sepi menjelang pecahnya kerusuhan. Untuk bertahan hidup, mereka berdagang makanan jadi yang dijual melalui jendela toko.

gustaaf-david-antonKarena novel Dover belum seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,  kami hanya membaca 9 halaman teks berbahasa Inggris, hasil lokakarya terjemahan di Norwich. Sangat tidak memadai, seandainya saja tidak ada si penulis yang bisa ditanyai tentang jalan cerita novelnya. Saat sesi pembukaan, para penulis (ada dua, yang satu lagi, Kjersti Anesdatter Skomsvold, orang Norwegia) mengungkapkan pengalaman mereka saat mengikuti lokakarya di Norwich. Betapa mereka merasa tersanjung melihat kalimat-kalimat mereka dibedah, ditilik, dibahas oleh para penerjemah untuk mengetahui apa sebenarnya yang mereka coba ungkapkan, lalu diceritakan kembali dengan bahasa lain. Di samping terkadang merasa ada yang mengganjal karena ternyata pemahamannya kurang pas, mereka juga terkagum-kagum saat penerjemah menangkap makna lain yang lebih dalam daripada yang sebenarnya (padahal mereka sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu :p ).

Penerjemahan dilakukan dengan cara membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk menggarap bagian-bagian teks yang berbeda kemudian membahas hasilnya bersama-sama. Menerjemahkannya tidak lama, tapi pemolesannya itu yang seru. Diperlukan satu sesi penuh untuk membahas paragraf yang terdiri dari sekitar 200 kata saja. Hari-hari lokakarya dilalui seperti itu. Perdebatan selalu alot menjelang istirahat makan siang. Anehnya, setelah makan siang proses jadi lancar. Kami menarik kesimpulan: ‘logistik dulu, baru logika.’

Aku dibuat pusing oleh kalimat yang digarisbawahi dalam paragraf ini:

His mother said there was nothing to worry about, she could still go out. His father answered that everyone knew who she was. Marlon was listening to his parents’ conversation. The shop was closed. The wooden shutters on the windows bore curses like malevolent tattoos screaming pig. His mother wanted to do the shopping for the meals, how else were they going to get their hands on some money? His father said she was as stubborn as a mule.

Bahasa Belandanya:

De houten luiken op de ramen droegen scheldwoorden, varkenskreten als kwade tatoeages.

Terjemahan awal:

Papan-papan penutup jendela bertatahkan hinaan bagaikan jeritan babi disembelih.

Tadinya kami mengira ‘shutters’ yang dimaksud adalah papan-papan yang biasa kita lihat di warteg. Ternyata eh ternyata, yang dimaksud adalah selembar daun jendela terbuat dari kayu yang membuka ke arah atas dan harus diganjal tongkat. Meneketehe? Kata ‘pig’ itu juga jadi bahan perdebatan seru selama kurang lebih satu jam. Apakah memang ada tulisan ‘babi’ di penutup jendelanya? Atau dicoreti silang besar sebagai tanda sasaran untuk diserang? Atau kata-kata lain yang sifatnya menghina? Terkenang ke masa itu, tak pelak aku mengira jangan-jangan tulisannya malah ‘Milik pribumi’ yang pernah kulihat di warung tetanggaku. Mungkin, saking terancamnya, keluarga Marlon terpaksa menuliskannya demi keselamatan sehingga, entah mengapa, merasa tertekan karenanya <– salah besar. Namun, Gustaaf menjelaskan bahwa dia ingin menerangkan betapa gentingnya, betapa mencekamnya, suasana saat itu. Penulis yang *uhuk-uhuk* ganteng ini juga ingin gaya puitisnya dipertahankan. Berbagai kamus dan Google pun dikaryakan. Menurut Eka yang tinggal di Solo kala itu memang tak sedikit tempat yang dicoreti kata tersebut, bahkan ada kata-kata yang lebih kasar lagi. Berbekal berbagai informasi itu, kami sepakat menerjemahkannya seperti ini:

Di papan penutup jendela toko tertoreh hinaan BABI bagai rajahan penuh kedengkian.

Terjemahan Kelompok 3 (langsung dari bahasa Belanda):

Papan penutup jendela bercoretkan makian seperti ‘babi’ dan lainnya, bak rajah penuh amarah.

flat-walletAda lagi kasus ‘flat wallet’ yang setelah ditanyakan kepada penulisnya ternyata seharusnya ‘money belt’ kemudian diterjemahkan menjadi ‘sabuk uang’, dan oleh Kelompok 3 diterjemahkan menjadi ‘tas pinggang tipis’.

Bahasa Belanda:

De donkere stof verborg de platte beurs op zijn lichaam.

Bahasa Inggris:

The dark fabric hid the flat wallet he kept against his bare skin.

Heheh… ternyata bukan kami saja, David juga kelengar. Kami semakin merasa kehadiran penulis, dan penerjemah pertama, sebagai kemewahan karena biasanya kami menerjemahkan seorang diri, kadang tanpa ada yang bisa ditanya atau diajak berdiskusi. Selain itu, ada lagi perkara pemilihan kata berdasarkan banyak atau sedikitnya jumlah karakter. Kalau ini, terus terang aku yang paling bersemangat karena jika honor dihitung berdasarkan jumlah karakter, dengan sendirinya semakin panjang suatu kata, semakin asyik. 😉 Memang setiap orang memiliki kecenderungan untuk menggunakan kata-kata tertentu dari beberapa kata pilihan yang memiliki makna yang sama. Itulah yang membuat penerjemah atau penulis memiliki gaya khas masing-masing. Akan tetapi, seyogianya kita memilih kata berdasarkan konteks untuk menghasilkan terjemahan yang baik, tanpa memandang panjang atau pendeknya kata. Istilah ‘penerjemah berkarakter’ pun lahir: penerjemah yang gemar menggunakan kata-kata yang memiliki jumlah karakter paling banyak. Heheh

In the second town he couldn’t find anywhere to park.

1. Di kota kedua dia sulit menemukan tempat parkir.

2. Di kota kedua tak dia temukan tempat untuk parkir.

3. Di kota kedua ia tidak dapat menemukan tempat untuk memarkirkan mobilnya.

Terjemahan akhir:

Di kota kedua dia tak menemukan tempat untuk parkir.

Terjemahan Kelompok 3:

Di kota kedua ia tidak mendapatkan tempat parkir.

Menarik sekali menyimak perbedaan DAN persamaan hasil terjemahan antara penerjemahan langsung dari bahasa Belanda yang dilakukan Kelompok 3 dan penerjemahan relay dengan bahasa Inggris sebagai perantara yang kami kerjakan.

Contoh kesamaan:

Er was iets met zijn hoofd. (Nl)

There was something wrong with his head. (En)

Ada yang tidak beres dengan kepalanya.(Id)

Kami juga beruntung karena salah satu teman satu kelompok, Ika, bekerja di Pusat Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Semoga masukan-masukan yang dilontarkan oleh forum disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang. Dan, semoga Ika tidak kapok mengikuti acara-acara seperti ini karena selalu dijadikan ‘sasaran’ saat kami menemukan lema yang kadang-kadang kurang masuk akal di KBBI.

Seperti kata Mas Anton, di samping hasil terjemahan yang baik, yang penting dari kegiatan ini adalah prosesnya. Asal tahu saja, aku sangat menikmati proses itu 😉 Terobati rasanya kelelahan akibat tegang saat naik Kopaja 66 yang ugal-ugalan setiap pagi selama lima hari berturut-turut (maklum, sudah lama jadi ‘orang gedongan’ alias diam di rumah saja). Saat sesi penutupan, kembali seluruh peserta lokakarya dan peserta seminar berkumpul. Dari pemaparan teman-teman kelompok lain, ada yang terbentur perbedaan budaya misalnya saat menerjemahkan tiruan bunyi atau onomatope. Betapa bunyi lonceng, sapi dan lain-lain itu berbeda, tergantung daerahnya. Peserta lokakarya memang berasal dari berbagai belahan nusantara, yaitu dari Makassar, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, di samping Jawa Barat dan DKI. Seorang perserta bertanya, setelah ini apa? Eliza Vitri Handayani, penggagas kegiatan, menjawab itu terserah kami. Aku sendiri menganggap sasaranku mengikuti acara ini tercapai, yaitu ingin menjadi bagian dari cikal-bakal Pusat Penerjemahan Sastra Indonesia sambil enjoying the ride, kata urang Sunda mah. Semua petunjuk, petuah, bocoran, dan ide-ide yang didapat dari lokakarya ini akan kugunakan untuk mengasah keterampilanku.

Dari awal memang pembacaan hasil terjemahan sudah tertera dalam agenda. Yang membuat deg-deg-an adalah kami diharapkan membacakannya sambil membuat pertunjukan. Mana tahaaan! Tapi semua berjalan lancar dan aku juga menikmati pengalaman baru ini. Setelah melihat penampilan kami, Gustaaf bercerita dia pernah didekati pihak yang ingin mengangkat novelnya menjadi film. Tapi, katanya, dia tidak yakin ada yang mau menonton film kelam seperti itu. Ah, Mas Gustaaf memang suka merendah. 😉

Baca hasil terjemahan kami.

Iklan

18 comments on “Logistik dulu, baru logika.

  1. Rosmeilan Siagian
    Oktober 15, 2012

    Lapantanya ciamiiiikkk banget, Teh Dina.
    🙂

    • Dina Begum
      Oktober 15, 2012

      Hatur nuhun *jingkrak-jingkrak.*

  2. krismariana
    Oktober 15, 2012

    lapantanya lengkaaaap! keren deh mbak dina 😉

    • Dina Begum
      Oktober 15, 2012

      Trims. Heheh… biar beda dengan lapantamu 😉

  3. Andi Sukmana
    Oktober 15, 2012

    Trms banyak ibu Dina. Saya tunggu dgn senang hati postingan2 ibu yg lain ttng/yg menyangkut jagat penerjemahan. Trms sekali lagi. Wassalam.

    • Dina Begum
      Oktober 15, 2012

      Sama-sama, Mas. Makasih udah ‘mampir’.

  4. Tarie Kertodikromo
    Oktober 15, 2012

    Pengalaman yg seru & berharga juga bagi saya… Salah satu hal yg mengesankan karena & selama mengikuti workshop ini adalah bertemu muka dgn Dina Begum (sebelumnya hanya tahu melalui milis & FB & berhub melalui email bbrp hari sblum ws)… Senang mengenalnya & dapat banyak wawasan & inspirasi darinya… Thx ya, atas pinjaman peralatan merajut utk properti pembacaan karya di malam penutupan…

    • Dina Begum
      Oktober 15, 2012

      Waduuuh ge-er aku jadinyaaaa…. Senang banget ketemu Tarie, sempat mojok bareng dikejar singa mati di kantin 😉
      hahaha keranjang rajutku jadi eksis!

  5. dedehsh
    Oktober 15, 2012

    mb Dinaaa.. makasih ceritanya, lengkaaaap.. sampe ke contoh2 terjemahannya. makasih.. makasih.. 😀

    • Dina Begum
      Oktober 15, 2012

      Sama-sama, hehe cuma mindahin catatan aja kok.

  6. Meggy Soedjatmiko
    Oktober 16, 2012

    Hai mba Dina, keren laporannya. Sempat lihat waktu di workshop, sayang tak sempat kenalan. Kalimat ‘The wooden shutters on the window…’ itu pun sempat menjadi perdebatan panjang di kelompok kami (kelompok 3), bukan antara peserta workshop, tapi dengan Gustaaf ;p hehe..

    • Dina Begum
      Oktober 16, 2012

      Ooooh aku juga memandang Mbak Meggy dari jauh. *menjura.* Sebenarnya aku ingin deh minta teks bahasa Belanda dan terjemahan kelompok 3 untuk dibandingkan. Bolehkah?

      • Meggy Soedjatmiko
        Oktober 16, 2012

        Tentu boleh, mba. Nanti aku e-mail yah..

  7. irma
    Oktober 16, 2012

    Lapanta yang detail dan seakan aku ada disitu. Lengkapppp….. Makasih udah berbagi Teh Dina.. 🙂

    • Dina Begum
      Oktober 16, 2012

      Makasih juga udah mampir, Irma. Semoga berguna :D.

  8. Lusi
    Oktober 16, 2012

    Asik banget ya mak. Semoga keinginan mak tercapai, jadi bagian cikal bakal Pusat Penterjemahan Sastra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 15, 2012 by in Laporan Pandangan Mata and tagged , , , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: