Penyayang Singa Mati

Aku senang kucing dan anjing. Mereka enak untuk dipeluk-peluk dan asik diajak bermain. Lima tahun silam kami pernah mengadopsi anak kucing. Bukan kucing eksotis yang harganya selangit, melainkan kucing biasa. Akan tetapi, ternyata kalau mau pergi-pergi jadi dilematis, mau ditinggal kasihan tapi mau dibawa repot banget. Seperti kucing-kucing kecil lainnya, mereka gak bisa diam. Kalau ngerusuhin rumah sendiri sih enggak apa-apa, ini masuk-masuk ke rumah tetangga dan menyatroni meja makan orang. Mungkin karena kurang perhatian dari orang tuanya, ya. Maklum, mama kucingnya entah ke mana. Setelah setengah tahun memelihara, akhirnya kucing-kucing manis ini terpaksa kuberikan untuk diadopsi orang lain yang lebih bisa merawat mereka. Hiks.

Beberapa tahun yang lalu tetanggaku memelihara anjing kecil yang unyu. Rupanya keluarga muda itu juga kurang telaten mengurus hewan peliharaan. Hampir setiap akhir pekan Molly, anjing itu, tidak diajak kalau majikannya pergi ke rumah orang tua mereka, bahkan sampai menginap segala. Dia ditinggal di rumah sendirian dengan dibekali setumpuk makanan anjing dan seember air. Kalau malam Molly suka melolong-lolong, entah karena kedinginan atau kesepian. Aku sering melongok dari balik pagar untuk sekadar menyapanya dan mengelus-elus kepalanya dari celah pagar. Sesekali Molly berhasil kabur menerobos pagar, biasanya aku  menangkap dan ‘mengasuhnya’ sampai tetanggaku itu pulang. Saat keluarga itu pindah, Molly tentu saja dibawa.

Tidak seperti Sary, pemilik blog Maru Bunny Town yang memelihara anjing, kucing, kelinci, hamster, iguana, guinea pig, bahkan ayam dan bebek, aku tidak pandai mengurus binatang. Sekarang aku tidak punya binatang peliharaan, dan harus cukup puas dengan ‘memelihara’ boneka-boneka binatang saja (Snupi dan Barnabi para anjing, Said si unta, Mr Wombat si wombat, Dora si domba merah, Mrs. K si kanguru dan bayinya, Perdo si keledai dan Rimba si singa)……

dan sesekali menerima kunjungan kucing tetangga yang kupanggil Katul.

Dibandingkan dengan memelihara hewan hidup, ternyata aku lebih mahir merawat singa mati. Singa mati atau dead lion adalah pelesetan dari kata deadline atau tenggat yang sudah akrab di kalangan para penerjemah anggota milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia). Sebagai penerjemah, aku sering harus mengejar tenggat yang telah ditentukan klien untuk merampungkan terjemahan. Semakin banyak singa mati artinya semakin banyak order. Jadi, boleh dibilang aku ini penyayang singa mati 😉

Sary sedang merayakan ulang tahun blognya yang kedua, tempat ia berbagi cerita seputar keluarganya yang pecinta binatang. Selamat ulang tahun, Maru Bunny Town. Semoga traffic-nya semakin meningkat. 😉

Iklan

10 thoughts on “Penyayang Singa Mati

Add yours

  1. aku sebenarnya suka anjing. tapi susah peliharanya, karena kalau punya peliharaan susah kan kalau mau pergi-pergi. di rumah jogja, kami sekeluarga punya kelinci. untungnya di dekat rumah sana ada peternak kelinci, kalau tidak ada orang di rumah, si kelinci dititipkan ke rumah peternak kelinci tsb. aku juga suka singa mati hehe. kalau nggak punya singa mati, bingung deh. 🙂

    1. Kakakku juga pelihara kelinci. Walau empuk sayangnya kelinci enggak enak digendong. Mereka enggak senang dimanja, selalu melarikan diri dariku…. Enakan ngasuh singa mati ya… hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: