Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Menerjemahkan Novel

Baru-baru ini aku ditanya, bagaimana sih caranya menerjemahkan novel. Aku perlu beberapa lama untuk memikirkan jawabannya. Memangnya ada bedanya ya? Kalau dibandingkan dengan menerjemahkan komik atau film memang menerjemahkan novel beda, tapi dengan sesama buku? Aku jarang sih menerjemahkan nonfiksi. Jangankan menerjemahkan, baca aja jarang. *malu* Nonfiksi enggak ada jagoannya sih, hehehe. Walau begitu aku pernah menerjemahkan beberapa buku nonfiksi, dan perasaan aku enggak membedakan cara menerjemahkannya dengan menerjemahkan novel. Sama saja.  Aku cuma menerjemahkan buku sedemikian rupa sehingga hasilnya ingin kubaca.

Sebelum menerima order biasanya aku mencari tahu dulu tentang buku itu. Aku mengandalkan Goodreads untuk keperluan ini. Di sana kita tidak hanya menemukan sinopsis melainkan juga resensi orang-orang yang sudah membacanya jadi kita tahu buku macam apa yang ditawarkan. Kalau cocok, aku terima, kalau tidak lebih baik tidak menerimanya daripada malah hasilnya jelek karena enggak sanggup menerjemahkannya.

Idealnya memang buku dibaca secara keseluruhan dulu baru diterjemahkan. Tapi kalau tidak sempat, biasanya aku membaca dua atau tiga bab sebelum menerjemahkan lalu dilanjutkan di waktu luang. Jadi, penerjemahan paralel dengan membaca bukunya. Kurasa ini bukan hal yang baru, rata-rata penerjemah melakukannya. Dengan menyelami kisahnya, biasanya penerjemahan jadi lebih mudah. Kata-kata akan mengalir dengan begitu saja.

Setiap aku menaruh syak terhadap hasil terjemahan, yang rasanya seperti garukan kecil di bagian belakang benak, tidak boleh diabaikan. Pasti ada apa-apanya. Kemungkinan besar aku keliru menangkap maknanya. Kalau sudah begini aku akan mencari bukti-bukti yang mendukung. Biasanya aku menggunakan bantuan berbagai kamus, baik kamus tercetak, kamus dalam jaringan maupun luar jaringan, wikipedia, dan melihat penggunaan istilah itu dengan bantuan peramban Google. Tidak selalu ketemu. Mungkin karena daftar bacaanku kurang kaya. Nah, itulah gunanya teman, forum atau milis, hehehe.

Biasanya aku membagi file berdasarkan bab buku untuk mencegah bekerja dengan satu file yang ukurannya terlalu besar dan agar tidak bosan. Dengan membagi proyek penerjemahan menjadi beberapa etape, pekerjaan jadi lebih ringan. Setelah selesai, aku tidak langsung mengirimkannya. Pantang.  Harus dibaca dulu, minimal satu kali. Paling mantap lebih dari satu kali, setelah diselingi jeda agar otak segar dan bisa lebih jeli melihat kesalahan atau memunculkan padanan istilah yang lebih pas. Kalau langsung dikirimkan, bisa-bisa penuh dengan kesalahan tik seperti ini:

Aku meletakkan kotak di atas konter dapur dan berlari ke atas untuk memakan jins dan kemeja flanel biru kuning.

(Kemungkinan aku menerjemahkan sambil lapar, jadi error. Mau bilang apa lagi, soalnya tombol ‘i’ dan ‘n’ kan letaknya berjauhan.)

Pernah ada penerbit yang minta aku mengirimkan hasil terjemahan per bab karena waktunya mepet sehingga penyuntingan dilakukan paralel dengan penerjemahan. Aku pun memenuhi permintaan ini. Ternyata, begitu sampai di tengah-tengah buku aku mendapat ‘ilham’ padanan yang lebih pas untuk istilah-istilah yang sudah diterjemahkan. Terpaksa bolak-balik merevisi. Sekarang kuputuskan sedapat mungkin tidak ‘menyetor’ hasil penerjemahan per bab agar tidak merepotkan editornya, kalau cicilannya 2x sih masih bisa diaturlah…. #eh

Nah, itulah. Tidak ada yang baru. Tidak ada resep, tidak ada rahasia.

Simak contoh hasil terjemahanku dan trik untuk membuat hasil terjemahan jadi lebih enak dibaca.

Iklan

9 comments on “Menerjemahkan Novel

  1. ira
    Juli 18, 2012

    Wah, terima kasih tipsnya, bagi-bagi file berdasarkan bab hmm.. bisa dicoba!

    Dapet link blog ini dari hasil blog walking, seneng bisa nemu blog mbak Dina hehe (kalau mau nanya-nanya soal jadi penerjemah via email bolehkah? :D)

    • Dina Begum
      Juli 18, 2012

      Trims, udah mampir pagi-pagi. Boleh banget. Silakan… silakan… 🙂

  2. Ping-balik: Sekadar berbagi: bagaimana aku bisa sampai menjadi penerjemah « Dina's Pensieve

  3. krismariana
    Agustus 28, 2012

    mbak, naksir tempat untuk naruh buku itu. itu dapetnya di mana sih? atau bikin sendiri? pengen nyontek… 🙂

  4. Yulius Arafat
    Oktober 4, 2012

    Hai mbak Dina, Salam kenal
    Aku kagum sama tulisan, novel dan terjemahan mbak, suer … mbak domisili Jakarta ya?
    aku di pasuruan dan kenal juga (tepatnya tetangga rumah) dg mas Ahnan Alex 🙂
    dia sedikit cerita ttg mbak, he dubs you as “Ratu Novel” hehe …
    kapan-kapan aku boleh ya mbak curhat ttg terjemahan ku,
    di sisa waktu sepulang dr kantor aku sempatkan membangun blog yg isinya terjemahan cerita anak2, blognya masih hijau banget dan mohon dg hormat serta amat sangat apabila sempat untuk mengkritiknya.

    ps: penjepit bukunya keren abis 🙂

    • Dina Begum
      Oktober 4, 2012

      Hai, salam kenal Yulius. Makasih udah ‘mampir’ ke blogku.
      Wah Ahnan lebay tuh… masa aku dibilang Ratu Novel… aku kan Ratu Sejagat #ditimpuk.
      Siap… entar aku blogwalking ke blogmu 🙂

      Hehe bikin dong penjepit bukunya. Siapa tahu nemu bahan yang pas terus diproduksi massal deh #eh.

  5. Yulius Arafat
    Oktober 4, 2012

    ya itu, jagad pernovelan 😀 kupegang janjimu ya mbak …
    sebelum diproduksi masal, mbak bikin patennya dulu biar kejadian Apple vs Samsung gak pecah di sini 😀 #ngayal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 16, 2012 by in Di balik layar and tagged , , , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: