Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Gemar Membaca Jadi Mata Pencaharian

Suatu hari saat sedang menceritakan novel terjemahanku yang baru terbit dengan bapakku, aku ditanya,

“Yang bikin kamu bisa nerjemahin itu karena dikursusin bahasa Inggris di LIA ya?”

Tanpa pikir panjang aku jawab, “Enggak juga sih, itu karena aku suka baca.”

Waktu masih SMA aku kursus bahasa Inggris memang bukan karena nilai pelajaran bahasa Inggrisku jelek, justru sebaliknya. Yang membuat aku tertarik kepada penerjemahan adalah rasa ingin tahu. Kalaupun ada, pada era tahun ’70-an sampai ’80-an film-film di TVRI tidak semua diberi subtitle. Kalau film-film kartun semacam Woody Woodpecker atau Tom and Jerry sih enggak masalah karena mereka enggak pakai dialog atau hanya sedikit dialognya. Tapi pas nonton film-film kocak, seperti film seri Mister Ed si kuda yang bisa bicara, aku sungguh gemas. Apa sih yang ditertawakan orang-orang itu? Aku jadi akrab dengan kamus. Walau tidak banyak kata yang kutangkap, dan kalaupun ada yang kutangkap belum tentu benar juga, aku toh membaca kamus untuk mencari artinya.

Selain TVRI, tidak banyak hiburan di rumah saat aku masih kecil, jadi aku senang membaca dongeng. Dongeng bisa membawaku ke mana-mana, berkhayal segila-gilanya dan membuatku jadi apa saja yang kuinginkan, tergantung ke mana isi cerita membawaku. Aku sering nongkrong di perpustakaan umum di Gedung Merdeka Bogor (sekarang sudah jadi pusat perbelanjaan) dan membaca buku cerita yang tidak terlalu banyak tersedia di sana. Aku rela menabung uang jajan untuk melengkapi koleksi novel-novel karya Enid Blyton. Aku pernah sampai bela-belain pulang jalan kaki sehabis beli buku meski  jarak toko buku dengan rumah hampir satu kilometer (aku masih SD, awal tahun ’80-an). Uang yang kubawa cukup untuk membeli beberapa novel tapi sebagai akibatnya enggak cukup buat ongkos naik delman. Padahal, pas pergi ke toko buku itu juga aku naik delman gratis, karena kusirnya enggak punya uang buat kembalian. Waktu itu uangku pecahan besar, Rp10.000,- (sehabis lebaran 😉 )

Bersama Pak Djokolelono di acara Vandaria Saga.

Nama-nama seperti Agus Setiadi dan Djokolelono begitu akrab di mata karena berkat beliau-beliaulah aku jadi bisa menikmati petualangan mengasyikkan remaja-remaja Inggris itu. Boleh dibilang itu cikal-bakal tumbuhnya keinginan untuk menjadi penerjemah di kemudian hari.

Kebiasaan membaca bukan hanya sekadar memperkaya kosa kata dan gaya bahasa melainkan juga membantu diri sendiri dan tidak merepotkan orang lain. Sebelum bertanya sesuatu ke orang lain atau ke forum, aku mencari dulu di internet dengan bantuan mbah Google. Malu kan kalau sudah nanya ternyata jawabannya ada di ujung jari, tinggal klik saja. Ketahuan malas baca. Orang yang terbiasa membaca akan lebih cepat menguasai berbagai program aplikasi komputer untuk memudahkan bekerja. Dulu, aku lebih suka menekan tombol F1 di keyboard ketimbang merepotkan orang TI di kantor. Kalau sudah mentok, nah baru deh mencari bantuan ke orang yang lebih ahli. Begitu juga caraku menguasai berbagai program yang membantu penerjemahan (Computer Aided Translation Tool atau CAT Tool), dengan membaca manualnya dan memanfaatkan tombol F1. Aku menggunakan berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh Bahtera/HPI untuk mendapatkan tips dan trik dari teman-teman yang sudah lebih dulu menguasai berbagai program tersebut agar bisa bekerja dengan lebih lancar dan cepat.

Jadi, walau aku menjawab pertanyaan bapakku secara spontan, setelah direnungkan lagi ternyata kebiasaan membaca itu memberikan lebih banyak manfaat bagiku. Semoga kebiasaan ini menular kepada anak-anakku.

Baca juga tentang sisi suram profesi penerjemah.

Lihat perpustakaan kecilku di rumah.

Djoko Lelono :
Terharu. Kalau saya, suka bahasa Inggris lebih dahulu daripada kebisaan membaca! sebelum sekolah tiap hari dibacakan komik Flash Gordon dan Mandrake oleh ayah (bukan seorang terpelajar, seorang kopral dan menjadi single parent, dan tinggal di asrama tentara). Suatu hari saya berbuat salah besar dan dihukum tidak dibacakan komik lagi. Untung kakak yang dua tahun lebih tua dan sudah sekolah jadi kasihan, dan membacakan serta sekaligus mengajari saya membaca. Karena kemaruk bisa membaca (belum sekolah) saya mencoba membaca teks bahasa Inggrisnya dan mengira-kira apa terjemahannya. He he he … tentu saja banyak ngawurnya. Tetapi akhirnya jadi suka bahasa Inggris!

Iklan

13 comments on “Gemar Membaca Jadi Mata Pencaharian

  1. milo
    Juli 30, 2012

    Kalo saya sih bacanya buku berbahasa Indonesia, jadi ya tetep belum gape Bahasa Inggris 😀

  2. Emak Gaoel
    Agustus 2, 2012

    huwwwowww, saya selalu kagum sama translator dari bahasa apa pun, terutama yg menerjemahkan buku fiksi (novel)…hebaaat…. 🙂
    terima kasih ya udah ikut meramaikan #GABlogEmakGaoel 🙂
    kamu kebagian nomor urut 2
    tunggu pengumumannya tanggal 4 ya…

    • Dina Begum
      Agustus 2, 2012

      Terima kasih, Mak. Aku salut sama penulis… Tanpa mereka dunia hampa 😉
      *joget2 di urutan ke-2*

  3. esti sulistyawan
    Agustus 4, 2012

    penerjemah ya mbak, keren euy 🙂

  4. krismariana
    Agustus 7, 2012

    penerjemah zaman dulu memang keren-keren. berkat mereka, aku juga jadi bisa menikmati berbagai novel anak-anak. asyik ya! 🙂

  5. 1nd1r4
    Agustus 8, 2012

    Ihhh pingin banget nerjemahin buku…..pingin nulis juga….*banyak mau dot com* mulainya dari mana ya mbak?

  6. 1nd1r4
    Agustus 8, 2012

    One more question 😀 mbak pake CAT tool apa? *eh boleh sebut brand ga ya?*

    • Dina Begum
      Agustus 8, 2012

      Boleh-boleh aja, kan bannernya udah di pasang tuh di sebelah kanan. Dulu pakai OmegaT yang gratisan, terus beli WordFast, sekarang lebih banyak pakai Trados Studio 2011. 😀

  7. sondang simanjuntak
    Agustus 17, 2012

    Dinaaaaaaa,,, salut!!! Aku jadi pengen anakku doyan baca,,, *kalo aku mah dah telat!

    Kapan bisa temenan kayak semasa SMP dulu yaaaaa,,,
    Masih inget kan???

    Terus berkarya, say,,,

    • Dina Begum
      Agustus 17, 2012

      Trims, dear.
      Hahaha…. biar anak doyan baca emaknya juga harus ngasih contoh dong. Hehe… Masa SMP rasanya baru kemarin lewat yaaaa…

  8. nafasdunia
    Mei 17, 2013

    generasi dulu kayaknya lebih gampang melahirkan orang yang suka baca, karena hiburan jaman dulu tidak sebanyak sekarang.
    jaman sekarang ini bakal melahirkan orang2 yg suka… main game?

    *hasil nguping obrolan emak-emak*

    • Dina Begum
      Mei 17, 2013

      Tergantung orangtuanya juga sih. Sebelum terpengaruh lingkungan, anak-anak kan meniru orangtuanya. Kalau orangtuanya memberikan contoh gemar membaca atau menyibukkannya dengan kegiatan lain selain bermain game kemungkinan dia akan terbiasa dengan kegiatan itu dan diharapkan minatnya terhadap permainan elektronik berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 7, 2012 by in Di balik layar and tagged , , , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: