Ulasan Buku: Kisah Lukisan Terkutuk

Cerita ini benar-benar di luar dugaanku. Dari kalimat-kalimatnya yang panjang dan filosofis aku tak mengira akan bisa menikmati misteri aneh yang membuat bulu kuduk meremang. Walau sudah diangkat menjadi film yang sudah lama beredar, baru kali ini aku membaca ceritanya. Aku belum menonton filmnya karena konon filmnya seram. O_o

Kisah dimulai dengan Lord Henry yang menyimak pengakuan temannya, Mr. Basil Hallward, pelukis yang jatuh cinta kepada seorang pemuda tampan, Mr. Dorian Gray.  Saat itu Basil sedang menyelesaikan lukisan Dorian yang ternyata merupakan adi karyanya yang indah. Itulah awal persahabatan fatal antara Dorian dengan Lord Henry. Saat itu Lord Henry berhasil meyakinkan Dorian bahwa masa muda dan kenikmatan adalah segala-galanya sehingga Dorian iri pada lukisan dirinya yang akan tetap muda sementara ia menua. Ia ingin keadaan terbalik, lukisan itu yang menua dan ia awet muda selamanya.

Dorian yang pada dasarnya anak broken home (Bab 3) jadi lebih rusak karena dipengaruhi pandangan-pandangan Lord Henry yang nyeleneh. Ia sama sekali tidak merasa bertanggungjawab atas kematian gadis tunangannya yang bunuh diri karena ia campakkan. Ia juga tidak ambil pusing saat teman-teman intimnya, baik lelaki maupun perempuan, satu per satu terpuruk ke lembah nista bahkan ada yang sampai bunuh diri dan menjadi bahan gunjingan orang. Ia tidak mencari kebahagiaan, melainkan kenikmatan (Bab 17). Entah setan mana yang mendengarkan doa Dorian di studio lukis Basil. Tak dinyana keinginan itu terkabul. Perbuatannya yang semakin hari semakin buruk tercermin dalam lukisan dirinya yang jadi semakin tua dan mengerikan. Sementara itu, ia tetap muda dan berwajah tak berdosa, walau tahun demi tahun berlalu. Basil yang mendengar gunjingan orang tentang Dorian menanyakan kebenarannya. Saat Dorian tidak menyangkal, ia menasihati agar Dorian bertobat. Bukannya bertobat, Dorian malah membunuh Basil dengan kejam. Dorian menganggap lelaki itu yang bertanggungjawab atas kehidupan yang dijalaninya sekarang karena Basil yang membuat lukisan terkutuk itu.

Hebatnya, Oscar Wilde yang mendapat kritik pedas karena gara-gara buku ini ia dianggap hedonis penyebar pengaruh buruk yang ‘cengeng, kotor, banci, mencemari’ (wikipedia) tidak menuturkan apa saja perbuatan-perbuatan buruk Dorian. Contoh penyampaian Wilde yang paling menarik bagiku adalah adegan Dorian yang memeras Mr. Alan Campbell agar mau membantunya menyingkirkan mayat Basil. Dorian hanya menulis sesuatu di atas secarik kertas, menyodorkannya kepada Alan, kemudian membuat Alan gemetar ketakutan setelah membacanya sampai akhirnya ia memenuhi keinginan Dorian (Bab 14). Pembaca dibiarkan mengira-ngira siapakah Alan itu, mantan kekasihnyakah? Lalu apa yang ditulis Dorian sehingga Alan jadi tak berkutik seperti itu? Pembaca diberi ruang untuk berkhayal sesukanya. Novel ini adalah versi terbitan tahun 1891 yang kadar homoerotisnya sudah dikurangi setelah Wilde menerima banjir kritik. Versi aslinya yang terbit tahun 1890 mendapat cap sebagai ‘buku beracun’ dari Daily Chronicle. Tema novel yang berbau homoerotis dianggap tidak bermoral oleh masyarakat masa Victoria saat itu. Hal inilah yang kemudian memainkan peranan besar dalam kasusnya di pengadilan.

Bab pamungkas yang singkat membuatku kelabakan dan mengguncang-guncang buku, siapa tahu masih ada cerita yang terselip. Aku masih ingin baca. Dorian sudah menerima ganjaran akibat perbuatannya. Ya sudahlah. Tapi bagaimana dengan Lord Henry? Masa dibiarkan lolos begitu saja, padahal ia yang memengaruhi Dorian sampai jadi seperti itu. Jangan-jangan masih bisa memengaruhi orang lain! Ah, sungguh pengalaman membaca yang unik.

Judul: The Picture of Dorian Gray
Penulis: Oscar Wilde
Terbit: 1890

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: