Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Ulasan Buku: Kisah Kasih yang (akhirnya) Sampai

JulietJuliet by Anne Fortier
My rating: 3 of 5 stars

Penerjemah : Linda Boentaram
Penyunting : Prisca Primasari
ISBN: 978-602-9225-38-9
Halaman : 705
Penerbit : Qanita
Harga: Rp 85.000

*Burp* (Maaf)
Begitu kira-kira reaksiku sehabis baca kalau novel Juliet ini makanan. Sungguh lezat dan mengenyangkan – dan yang pasti enggak bikin gemuk. Saking banyaknya membaca atau menonton nukilan kisah Romeo dan Juliet, tidak pernah terpikir olehku untuk membaca karya Shakespeare itu. Apa menariknya, toh jagoannya mati—bunuh diri pula. Aku tidak pernah merasa bersimpati kepada orang yang bunuh diri karena cinta. Yang membuatku tertarik adalah unsur misteri dan harta peninggalan Juliet. Aha!

Kisah yang diawali dengan kematian seorang bibi dari gadis kembar berdarah campuran Italia-Amerika ini langsung memikat mataku untuk terus membaca. Karakter kedua saudari kembar itu tidak mungkin bisa lebih berbeda lagi. Yang satu, Janice, cantik jelita, populer dan punya banyak pacar sedangkan kakaknya, Julie, memilih untuk menjadi sebaliknya dan mendapatkan julukan ‘virgitarian’ alias masih perawan dari Janice. Bibi Rose mewariskan seluruh hartanya kepada Janice, sedangkan Julie hanya mendapatkan sebuah anak kunci, paspor dengan nama aslinya, Giulietta Tolomei, dan sepucuk surat yang menjelaskan bahwa ia harus pergi ke Italia untuk mencari peninggalan ibunya yang ‘jauh lebih bernilai daripada segala sesuatu yang pernah kumiliki.’ (hal. 28) Lewat surat itu, bibinya memberi petunjuk agar ia menemui seseorang di bank tertentu dan mengambil sebuah kotak berisi surat-surat berharga. Anak kunci itulah yang bisa membuka kotak berisi petunjuk tentang peninggalan tersebut. Jadi, berangkatlah Julie, atau Giulietta, ke Italia.

Di Italia, tidak saja Julie mendapati bahwa hartanya benar-benar ada, melainkan juga mengungkapkan legenda Romeo-Juliet. Ia bertemu dengan Eva Maria Salimbeni yang katanya percaya bahwa ada kutukan merundung keluarga Tolomei dan Salimbeni yang harus dihapuskan dengan cara mempersatukan keturunan Romeo dan keturunan Juliet alias Giulietta untuk memperbaiki nasib kedua keluarga tersebut. Julie juga bertemu dengan anak baptis Eva Maria, Alessandro, yang ¡voila! mewarisi nama Romeo. Sampai di sini aku merasa bisa menebak akhir cerita dan mulai ogah-ogahan membacanya.

Ternyata oh ternyata, jalan ceritanya sama sekali tidak seperti yang kusangka. Kawan ternyata berubah jadi lawan, dan yang tadinya kusangka lawan ternyata kawan. Aku merasa seperti diseret-seret menyusuri ceruk dan lorong Siena yang memesona dan dibuai oleh kisah cinta tragis Romeo dan Juliet yang ‘sesungguhnya.’ Ada pihak-pihak lain yang menginginkan harta itu. Julie dibuntuti, kamar hotelnya diobrak-abrik entah oleh siapa, intinya, ia tidak aman. Benarkah mafia terlibat? Saat dicekam ketakutan, Maria Eva mengundang Julie ke sebuah pesta di rumahnya yang ternyata adalah pesta kuno. Tidak ada tamu pesta yang berusia kurang dari tujuh puluh tahun. Julie merasa itu sisi positif karena kalau seandainya semua orang itu vampir, mereka tampak begitu lemah sehingga ia mungkin bisa lolos dari mereka. (hal. 571) *LOL* Di sanalah rupanya ia harus menggenapi legenda Giulietta dan Romeo yang telah tertunda selama kurang lebih enam ratus tahun yaitu melewatkan malam pengantin bersama Alessandro. Huhuy!

Selain kisahnya mengasyikkan, yang membuatku betah membaca adalah cara Anne Fortier bercerita yang lucu. Saat hendak bunuh diri, sempat-sempatnya Giulietta bimbang ke mana ia harus mencari Romeo di alam baka. Ia tidak yakin Romeo bakalan masuk surga karena ‘Meskipun tidak sempurna di mata Tuhan, ia masih perawan suci; Romeo, sebaliknya, jelas telah meninggalkan sejarah kejahilan panjang.’ (hal. 387) Selama membaca novel ini, berkali-kali aku tergelak sampai my roomate menyangka aku sedang membaca cerita jenis mati ketawa. Ini benar-benar bonus!

Novel ini dibuat selang-seling, menceritakan kisah masa kini dalam satu bab kemudian masa lalu di bab berikutnya sebelum menuntaskan ceritanya. Aku sempat kesal ketika sampai pada bagian peralihan, Anne Fortier menyambungkan masa lalu dan masa kini dengan cara menyelipkan kisah Kutukan di Dinding. Walau (dibuat) ada hubungannya, agak terlalu dipaksakan menurutku. Selain itu, bab tersebut merangkum kisah Giulietta-Romeo yang diceritakan di bab-bab sebelumnya. Seakan-akan penulis menyangka pembaca bisa meletakkan bukunya dan melanjutkan hidup selama beberapa waktu lalu kembali lagi meneruskan membaca dan harus disegarkan lagi ingatannya. Huh. Kekesalan karena kemunculan Janice di Italia yang ujug-ujug alias tiba-tiba yang tadinya tertutup keasyikan jadi timbul lagi. Tidak pernah dijelaskan bagaimana adik kembar Julie itu bisa sampai ke Siena, berkeliaran pakai motor ducati dan berkostum ala Kesatria Baja Hitam sampai-sampai Julie mengira itu Romeo-nya padahal katanya Janice sudah bangkrut karena warisan bibi Rose ternyata isapan jempol belaka. Itulah yang menyebabkan aku menganugerahi novel ini dengan 3 bintang dan bukannya 4 seperti rencanaku semula.

Lalu hartanya…? Ada dong. Harta itu berhasil ditemukan dan, seperti biasa, aku merasa ikut-ikutan jadi kaya, walau hanya sesaat.

View all my reviews

Iklan

5 comments on “Ulasan Buku: Kisah Kasih yang (akhirnya) Sampai

  1. Linda B
    Mei 16, 2012

    muantap mba reviewnya…giliran aku yg ketawa-tiwi bacanya. Rasanya senang luar biasa bisa nerjemahin buku yg begitu bagus sehingga bisa dinikmati pembaca Indonesia. Mudah-mudahan bisa segera difilmkan dengan aktor-aktris yang pas dan sutradara yang menjiwai ceritanya sehingga bisa lbh populer lagi…amin. Thanks for reading, n for those of you who have been looking for romance novels with unusual twists, the answer has come! *shameless promo*

  2. Indradya SP
    Mei 16, 2012

    Duh….punya bukunya tapi masih nangkring di rak buku 🙂 Sepertinya dari tahun ke tahun buku fiksi malah bergeser ke prioritas ke-2 di daftar buku bacaan saya. Sejak awal tahun ini buku fiksi cuma baca beberapa 🙂

    • Dina Begum
      Mei 16, 2012

      Gusti Allah memang adil… ada yang doyan fiksi, ada yang lebih suka nonfiksi. Makanya, dihibahkan saja itu novel-novel ke pihak-pihak yang bisa menikmatinya dengan pantas (aku).

      • Indradya SP
        Mei 16, 2012

        Wah jangan dong, saya kan beruntung diberi karunia Gusti Allah untuk bisa menikmati semua jenis buku, fiksi dan nonfiksi 😛 Ini cuma masalah waktu aja kok…hihihi 😛

  3. Saya Martha
    Juli 24, 2012

    Aku juga suka nih versi Romi-Juli yg ini, seger banget! Gak tragis spt pakemnya yg asli, hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 16, 2012 by in Ulasan.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: