Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan

Siapa yang tidak tergiur oleh profesi yang memungkinkan kita bekerja di rumah (atau di mana saja, asal ada listrik dan sambungan internet) dan sesekali bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, ‘hanya’ dengan mengandalkan komputer jinjing mungil dan kemampuan berbahasa asing? Setidaknya, begitulah cuplikan pengalaman Bu Sofia Mansoor yang membuatku sangat tergiur ;).

Temu HPI Komp@k. Kali ini yang dibahas adalah “Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan.” Acara yang digelar oleh HPI Komda Jawa Barat pada tanggal 14 Januari 2012 di American Corner Perpustakaan Pusat ITB itu menampilkan Bu Sofia Mansoor (penerjemah tiga zaman),  Andityas Prabantoro  (Manajer Redaksi Mizan), Wiwit Tabah Santoso (pengelola grup “Belajar CAT Tools” di Facebook), Laksmi Utari (mantan manajer biro penerjemahan internasional) sebagai narasumbernya, dan dipandu oleh Mbak Indra Blanquita Danudiningrat (Penerjemah Bersumpah dari Jakarta). Peserta yang datang pun tidak tanggung-tanggung, selain dari Jawa Barat, ada juga peserta dari Jakarta, Jawa Tengah,  dan Jawa Timur.

Walau masih banyak yang keliru sangka, sebagian besar hadirin sudah paham bahwa untuk menjadi penerjemah diperlukan penguasaan bahasa Indonesia yang baik, di samping bahasa asing, serta mampu memindahkan pesan dari satu bahasa ke bahasa lainnya dengan benar. Yang mungkin belum terpikirkan adalah: untuk menjadi penerjemah yang sukses, seseorang harus mengatasi berbagai tantangan di luar kemampuan menerjemah. Mau tidak mau kita harus ‘kejar-kejaran’ dengan teknologi. Bu Sofia, misalnya, Titik Puspa-nya Penerjemah, kata Mbak Indra, berhasil bertahan selama lebih dari tiga puluh tahun sebagai penerjemah karena merendengi langkah kemajuan teknologi, dari mulai mengetik pakai mesin tik lalu beralih mengetik pakai komputer, menggunakan internet, sampai menggunakan perangkat lunak sebagai alat bantu menerjemah (CAT Tool) dan membentuk jaringan luas. Bu Sofia adalah salah satu penggagas mailing list Bahtera: Bahasa dan Terjemahan Indonesia. Lain lagi ceritanya dengan Mas Wiwit yang sempat berdomisili di suatu daerah di Jambi. Di tempat itu, jangankan internet, listrik PLN pun tidak ada (yang penting masih di Indonesia, katanya). Mas Wiwit yang mengawali karier menerjemah pada tahun 2000-an, dengan honor per lembarnya di bawah Rp 10.000, kini sudah jauh lebih sejahtera berkat keuletannya mengatasi segala keterbatasan, rajin membaca manual untuk menguasai berbagai CAT Tool dan, lagi-lagi, membangun jaringan luas yang salah satunya melalui milis Bahtera. Karena kualitas terjemahannya dianggap baik, banyak klien Mas Wiwit yang tak segan-segan memberi petunjuk bagaimana cara menggunakan perangkat lunak untuk menggarap proyek terjemahan. Bahkan, ada kawan penerjemah yang sampai diberi lisensi perangkat lunak alat bantu penerjemahan harganya senilai satu motor skuter baru secara gratis oleh klien, saking baiknya kualitas hasil terjemahannya. Ha!

Akan tetapi, memiliki perangkat lunak mahal tidak langsung membuat Anda jadi penerjemah andal tanpa memiliki kemampuan dasar. Sebelum Anda bergegas membeli perangkat lunak canggih, simak dulu penuturan perjalanan karier Mas Tyas Prabantoro yang berawal dari seorang penerjemah hingga menjadi Chief Editor di Penerbit Mizan. Katanya, modal utama seorang penerjemah adalah gemar membaca dan, mengutip pendapat Sapardi Djoko Damono, menguasai betul Bahasa Indonesia selain menguasai bahasa asing. Di samping itu, wawasan juga harus luas agar bisa menangkap konteks tulisan yang hendak diterjemahkan dengan benar. Sebagai Chief Editor, Mas Tyas masih sering menjumpai kekurangan wawasan ini dalam naskah terjemahan yang mendarat di mejanya. Sebenarnya itu bisa diatasi dengan mau membaca, mengasah kemampuan menuangkan pendapat ke dalam tulisan dan tahu cara menggunakan berbagai kamus dan tesaurus – sesuatu yang luput dari bahan ajar pendidikan kita saat ini. Sepulang dari acara, aku bertanya kepada anak-anak, apakah mereka diajari bagaimana cara menggunakan kamus di sekolah. Enggak, kata mereka, ‘kan ada Google. *tepok jidat* Pe-er bagi para orang tua. Tuh, kan, lagi-lagi kita bertemu dengan teknologi. Kali ini teknologi membuat orang malas mengasah kemampuan dasar.

Jangan salah sangka dulu, teknologi sudah ada. Mau tidak mau kita hidup bersamanya. Jika merasa cukup dengan menjadi penerjemah saja hanya karena alasan tidak ‘mudheng’ atau malas belajar memanfaatkan teknologi, silakan. Tapi, jangan nangis kalau peluang lewat begitu saja gara-gara kita tidak menguasai perangkat lunak tertentu yang menjadi syarat untuk mendapatkan order. Mbak Ninis (Laksmi Utari), yang latar belakang pendidikannya akuntansi dan keuangan, punya pengalaman unik. Saat mendapat tantangan untuk membuka sebuah agen penerjemahan di ibu kota dengan syarat yang lumayan tinggi, yaitu menguasai berbagai CAT Tool, dia tidak lantas menolaknya dan melanjutkan kehidupan di zona nyaman. Walaupun belum menguasainya, Mbak Ninis yang saat itu tinggal di Surabaya segera belajar sampai bisa dan hijrah ke Jakarta. Hal itu juga diterapkan dalam merekrut karyawan. Menyadari bahwa tak banyak di antara para pelamar yang menguasai perangkat lunak alat bantu penerjemahan, dia tidak kekurangan akal. Mbak Ninis mengadakan tes saringan penerimaan karyawan di kantornya agar bisa menilai apakah seseorang menunjukkan keinginan dan kemampuan mempelajari sesuatu yang baru atau tidak. Cermat mengikuti petunjuk atau tidak. Orang-orang yang cermat, mau dan mampu belajar bisa diberdayakan melalui pelatihan.

Seusai acara, Mbak Lanny Utoyo, Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia Komisi Daerah Jawa Barat, menyampaikan ‘pesan sponsor’ dari Penerbit Mizan yang sedang mencari penerjemah bahasa Korea dan Jepang. Ini dia yang ditunggu-tunggu! Acara Temu HPI Komp@k selalu memberikan manfaat lebih. Nah, peluang sudah ada, kiat-kiat untuk menjadi penerjemah sukses sudah dibeberkan dengan gamblang. Masih mau jadi penerjemah biasa-biasa saja? Berikut adalah ragam profesi dalam penerjemahan yang bisa diselami.

Akhirnya aku bertemu dengan editorku yang ceria, Esti, dan Diaz, Tyas, Indra, Mahdi—‘kru Mizan’—yang hadir di acara. Ingin rasanya mampir ke sebuah kantor penerbitan. Pasti asik melihat ‘dapur’ tempat naskah terjemahanku digodok hingga menjadi sebuah buku.

Sayang aku enggak jadi ikutan dalam acara susulan di Kafe Taman, yaitu melihat Mas Wiwit yang menunjukkan Trados 2011 karena tebengan sudah menjemput. Padahal kesempatan itu langka, lho, karena Mas Wiwit datang dari Lampung. Semoga lain kali ada kesempatan serupa

Iklan

19 thoughts on “Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan

Add yours

  1. Waaah, seru banget acaranya, mba. Memang sebenarnya penerjemah zaman sekarang itu enak banget, terbantu dengan adanya google, CAT Tools, dkk. Ga kebayang zaman Bu Sofia dulu masih pake mesin tik. Tapi berarti justru tantangan penerjemah masa kini terletak pada kemauan dan kemampuannya memanfaatkan teknologi ya… Eniwe, thanks udah sharing ya, mba. ^^

  2. Dina, terima kasih atas lapantanya, Hati menang ingin sekali hadir, tetapi faktor lain yang menghalangi. Selamat kepada tim HPI Jabar atas kesuksesan acara kemarin.

  3. Mba Dina, makasih ya atas LaPanTa-nya.. Sungguh menginspirasi saya yang suka membaca tetapi malas menulis. Mulai sekarang saya ingin rajin menulis ah, biar bisa seperti Mba Dina yang pintar menulis sekaligus pintar menerjemahkan, uhuyy..!!

  4. Dina, ide bagus tuh, yuk kita rencanakan untuk berkunjung ke dapur penerbit yang menerbitkan terjemahan kita… biar tau juga bagaimana mereka menetapkan buku X ke penerjemah Y, misalnya. Lalu, diapakan terjemahan kita setelah mereka terima… pasti seru bertemu dan berbibnacng dengan tim yang menyebabkan nama kita tercantum di halaman hak cipta buku terjemahan kita… yuuuk, kapan?

    1. Hayuuuu… aku ikut ya, NiFi. Aku sampai membayangkan apakah tempatnya besar sekali? Apakah kita akan melihat tumpukan buku-buku di sana? Apakah dinding-dinding ruangannya penuh rak buku? Heheh ga penting banget ya keingintahuanku tapi ya gitu deh, namanya juga ngebayangin…

  5. Wah bagus tulisannya mbakyu… mari sama-sama asah laptop.. *lha sekarang jamannya ngetik pake laptop* Alhamdulillah waktu jaman sekolah dulu aku masih sempat diajarin bagaimana cara membaca kamus oleh guru-guruku… Kalau ada acara kunjungan ke penerbit mau deh aku ikuttt ^_^

    1. Trims, Devi.
      Aku juga dulu diajarin gimana cara pake kamus di sekolah. Mungkin gara-gara ngejar target kelulusan UN sekolah sekarang lebih mengasah kemampuan anak-anak mengerjakan soal-soal UN ketimbang kemampuan dasar atau – hehe – mengasah laptop.
      Nah udah ada tiga peserta nih…. ayo ayo siapa lagi… biar kunjungan ke penerbitannya jadi *wink*

  6. Mba Dina, terimakasih yaaaa……Tulisan yang sarat informasi dan memberi semangat, terutama utk saya yg betul2 baru ‘nyempulung’ di bidang penerjemahan ini…..
    Ikutan doooong kalau ada acara kunjungan ke penerbit:)

  7. Din, setelah berjaya sebagai penerjemah, bagaimana kalau menulis buku sendiri? Bagaimana kalau menulis buku untuk anak-anak? (Sambil memberi semangat nih. Kalau mau buku “bagaimana menulis buku untuk anak-anak” bisa aku email. Japri ya di hsurjadi@yahoo.com)

    1. Terima kasih sudah main ke blog-ku, Mas Harry. Waduh… ‘berjaya’ itu masih berupa cita-cita, Mas. Hehehe… kalau menulis buku aku belum pede. Setiap kali mencoba (dulu, waktu masih kanak-kanak) pasti ujung-ujungnya mirip cerita ini atau cerita itu. Itulah yang mendorongku jadi penerjemah, ‘the next best thing’ setelah menulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: