Ulasan buku: Serial Grandnie, Laba-laba dan jaring Kesayangannya

Oleh Truly Rudiono

Jakarta, 200XB

Hari pertama di tahun baru.  Di rumah besar di pojok jalan itu terlihat  kesibukan beberapa petugas dari EO  yang sedang membereskan sisa acara semalam.  Pesta tahun baru kemarin malam rupanya meninggalkan sampah yang lumayan banyak. Untung saja para tamu tertib membuang sampah di tempat yang disediakan, meringankan tugas mereka. Sekarang tinggal merapikan kursi dan meja.

Di sisi lain rumah, tepatnya di perpustakaan pribadi milik wanita paruh baya yang biasa dipanggil Grandnie juga terlihat kesibukan. Terlihat Grandnie sedang mengawasi proses  terakhir pengecatan bagian luar perpustakaan pribadinya. Untuk tahun ini warna biru pupus menjadi pilihan.

Setelah dirasa para tukang akan bekerja mengecat di luar  tanpa perlu diawasi lagi, wanita paruh baya itu masuk ke dalam perpustakaan. Lagi pula seharusnya beliau tak perlu khawatir, ada mandor yang bertugas mengawasi para tukang. Hanya karena kecintaannya pada perpustakaan pribadi, wanita paruh baya itu kadang melakukan hal-hal yang tidak perlu.

Di dalam perpustakaan yang nyaman, wanita paruh baya memandang tumpukan buku yang ada di atas meja. Kedua alisnya bertemu tanda sedang berpikir keras.  Sudah beberapa hari ini ia sibuk berpikir, hatinya galau memikirkan sesuatu.

Sebenarnya wanita paruh baya itu sedang memikirkan cucu kesayangannya. Tepatnya buku apa yang layak ia berikan bagi cucu kesayangannya itu. Seperti tradisi yang sudah berjalan sekian tahun. Menjelang pergatian tahun, setidaknya hari pertama di tahun baru, wanita paruh baya itu akan memilih salah satu buku dari koleksi berharganya untuk diberikan kepada sang cucu kesayangan yang juga sangat mencintai buku. Buku yang diberikan bisa dianggap sebagai  harapan atau petuah di tahun yang berjalan. Dan tradisi pemberian buku itu sangat ditunggu oleh seluruh penghuni rumah.

Betapa tidak, jika buku itu masih beredar dalam bentuk cetak ulang kesekian, putra sang wanita paruh baya itu akan memborong dalam jumlah besar dan membagikan untuk seluruh penghuni rumah dan kerabat.  Namun jika buku itu sudah tidak beredar lagi, maka sang cucu kesayangan yang akan membuat review dan membagikannya keseluruh isi rumah tanpa terkecuali.

Hanya saja…, hingga hari kedua lewat tahun baru, wanita paruh baya itu belum bisa memutuskan  buku mana yang paling layak untuk diberikan pada sang cucu. Beberapa buku sudah dipilih dan diletakkan di atas meja,  tetap saja masih terasa kurang pas.

Sebuah ketukan halus di jendela  membuyarkan  lamunan wanita paruh baya itu. Ternyata sang cucu kesayangan yang mengetuk,  meminta izin untuk masuk. Sebuah anggukan kecil dari wanita paruh baya itu sudah merupakan tanda  masuk. Maklum tidak semua orang dapat masuk ke perpustakaan pribadi itu.

“Pagi  Grand. Ada pesan dari sekretaris Oma Dina.  Acara pelatihan menjadi penerjemah di bakti sosial akan diadakan pada minggu terakhir bulan ini. Grandnie diminta membantu menyediakan konsumsi.” Kata cucu kesayangan sambil duduk di sebelah wanita paruh baya itu yang memberikan anggukan tanda mengerti.

Sambil duduk, cucu kesayangannya memandang buku-buku yang tergeletak di atas meja. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran. Maklum sudah sekian lama, belum juga ia menjalani ritual pemberian buku yang biasanya dilakukan bersama sang grandnie. Walau penasaran, tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya.

Wanita paruh baya itu bukannya tidak mengetahui rasa penasaran cucu kesayangannya. Tapi memang sudah menjadi  keputusannya untuk memilih hanya yang terbaik bagi sang cucu. Walau artinya harus menunda sekian lama.

“Grand, memang Oma Dina sering memberi pelatihan gratis yah? Padahal  untuk masuk sekolah bahasanya saja sungguh susah dan biayanya mahal. Tapi oma masih mau meluangkan waktu”  Tanya cucu kesayangannya sambil menatap sebuah foto yang ada di rak. Di foto itu terlihat Oma Dina,  Opung Boni , Opa Sil dan tentunya grandnie sedang berkumpul.

“Dari dahulu oma memang selalu rendah hati dan mau berbagi” Jawab wanita paruh baya sambil tersenyum. “Bahkan oma sering membagikan buku  terjemahannya jika dirasa cocok untuk para sahabatnya” Lanjut wanita paruh baya itu sambil berdiri. Perlahan ia berjalan menuju kebagian khusus dimana disana dipasang pemadam kebakaran  khusus untuk buku jika terjadi sesuatu. Mata wanita paruh baya itu mencari-cari  sesuatu. Binar gembira terpancar di matanya saat menatap sebuah buku. Dengan bersemangat diambilnya buku itu dan dibawanya ke sofa empuk yang diduduki cucu kesayanganngan.

“Lihat buku ini.” Kata wanita paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah buku dengan sampul gambar seekor babi  dan laba-laba. Langit biru  mendominasi halaman sehingga menimbulkan pesan ceria.

“Ini buku apa Grand?” Tanya cucu kesayangannya dengan semangat. Jika wanita paruh baya itu mengeluarkan sebuah buku dari koleksinya bisa dipastikan pastilah itu buku yang bermutu.

“Ini buku yang saat terbit di tahun 2011 telah terbit dalam  23 bahasa. Hasil terjemahan dari Oma  Dina. Judul Asli: Charlotte’s Web, penyunting: Salahuddien Gz,pemindai Aksara: Muhammmad Bagus SM, penggambar Sampul: Yudi Rawan, ISBN: 978-979-17998-0-5, halaman : 240, penerbit: Dolphin.” Papar wanita paruh baya itu dengan bersemangat.

“Kisahnya tentang apa Grand?” Tanya cucu kesayangan sambil membolak-balikan halaman dengan bersemangat.

“Kisahnya sederhana tapi bermakna dalam. Tentang seekor babi bernama  Wilbur.  Ia diselamatkan  dari kematian  oleh  Fern, putri pemilik peternakan yang kasihan akan nasibnya. Sebagai babi yang lahir dengan kondisi lemah dan kerdil. Jika dijual tidak ada yang mau membeli babi dengan kondisi seperti itu. Dari pada dipelihara dan menyusuhkan lebih baik dibunuh. Berkat bujukan Fern babi itu selamat dan diberi nama  Wilbur.”

 “Lalu apa istimewanya kisah itu Grand? Sepertinya banyak buku sejenis” Tanya sang cucu lagi. Rasa ingin tahunya tergelitik melihat gambar babi dan laba-laba.

“Itu bagian kamu untuk mencari tahu” Jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum penuh makna.

“Karena kamu juga sangat mencintai Oma Dina, maka  untuk tahun baru kali ini buku terjemahan Oma Dina adalah hadiah dari Grandnie” Lanjut wanita paruh baya itu.

“Wah…… keren! Terima kasih Grand”  Seru cucu kesayangannya. Dengan bersemangat mulai dilihatnya halaman-halaman yang ada. Namun wajahnya menunjukkan rasa penasaran dan heran.

“Kenapa?” Tanya wanita paruh baya itu.

“Anu, Grand…., di sini banyak memuat endorsement dari orang-orang yang berkompeten. Bisa kasih tahu aku sedikit bocoran ini tentang apa?” Jawab sang cucu dengan ragu-ragu. Ia sungguh tertarik dengan buku yang direkomendasikan oleh grandnie-nya tapi ia juga bingung apa hebatnya buku ini, sehingga setelah sekian lama memilih malah buku yang tidak ada dalam nominasi yang diberikan padanya. Pasti ada sesuatu hanya saja ia belum bisa menemukan apa itu, pikirnya.

“Ok, grandnie kasih sedikit bocoran” jawab panita paruh baya itu sambil tersenyum. Ia sangat memahami keheranan cucu kesayangannya. Seperti sang cucu, dirinya juga membaca buku motivasi dengan alasan pribadi. Hanya beberapa buku saja yang dibacanya dan disimpannya. Salah satunya buku ini.

“Buku ini mengajarkan bagaimana persahabatan bisa muncul begitu saja tanpa bisa kita hindari. Wilbur sang babi justru mengalami masa-masa menyenangkan selama hidupnya berkat bantuan Charlotte seekor laba-laba.” Papar wanita paruh baya itu.

“Wilbur tinggal bersama Fern untuk beberapa saat setelah itu ia dijual ke paman Fern seharga enam dolar. Fern sangat menyayangi Wilbur. Ia sering duduk di depan kandang Wilbur tanpa kenal waktu.  Suatu saat  ia mendengar bahwa ia akan  dipotong dan dijadikan santapan malam Natal. Sungguh berita yang menakutkan baginya” Lanjut wanita paruh baya itu.

“Lalu bagaimana nasib Wilbur, Grand? Apa hubungannya dengan laba-laba bernama Charlotte?” Tanya sang cucu kesayangan dengan bersemangat. Ia sudah mulai menemukan beberapa hal yang menarik dari buku itu.

“Singkat kata, Charlotte justru yang menyelamatkan Wilbur dibantu oleh hewan-hewan lain. Kamu tidak akan bisa  mengira bagaimana persahabatan menjadi kekuatan terkuat untuk melakukan apa asaja dalam kehidupan ini” Jawab wanita paruh baya dengan terseyum.

“Tugas kamu seperti biasa, mencari hal-hal lain yang menarik dari buku ini. Buat resensi seperti biasa. “ Kata wanita paruh baya itu sambil berdiri. Sang cucu kesayangan juga ikut berdiri dan berdua mereka berjalan beriringan keluara dari perpustakaan.

“Sebagai tambahan informasi,” Kata wanita paruh baya itu sambil menekan tombol kunci “ Buku ini telah memenangkan beberapa penghargaan saat Oma Dina menggarap terjemahannya. Antara lain: Massachusetts Children’s Book Award (1984), Newbery Honor Book (1953),Laura Ingalls Wilder Medal (1970) dan Horn Book Fanfare. Bahkan sudah diadaptasi menjadi film” Lanjut wanita paruh baya itu.

“Ok…ok..ok… aku mengerti, Grand. Lagi pula dengan begitu banyak nama yang memberikan endorsement serta keterampilan Oma Dina, buku ini masih akan menjadi buku yang menarik. Thanks, yah “ Kata cucu kesayangan sambil memberikan pelukan hangat.

“Pamit dulu, Grand, aku mau ke rumah Opung Boni, hari ini ada latihan untuk persiapan lomba dance” Sambung sang cucu sambil melambaikan tangan. Sudah lama memang ia dan teman-temannya berlatih dance dibawah pengawasan Opung Boni. Latihan mereka telah membuahkan beberapa prestasi yang patut dibanggakan.

“Tunggu sebentar!” Tahan wanita paruh baya itu. Sang cucu yang hendak melangkah menjauh segera membalikan badan dan menatap sang grandnie dengan heran.

“Kalau kamu bisa memenangkan lomba dance, grandnie akan keluarkan satu buku lagi buatmu. Buku cerita yang menjadi cikal bakal Taman Vandaria yang legendaris” Tantang wanita paruh baya itu.

“Deal grand!” Sahut sang cucu cepat sambil bergegas menjauh. Rupanya ia kian terpacu untuk berlatih.

Wanita paruh baya itu hanya  tersenyum melihat kelakuan cucu kesayangannya. Siapa yang tak mengenal Taman Vandaria, kreasi Ami Raditya .  Sebuah taman yang tidak hanya menawarkan hiburan tapi juga pendidikan bahkan kesempatan berbisnis.

Perlahan ia melangkah menuju rumah induk. Banyak yang harus dikerjakannya. Dari mulai memesan konsumsi untuk  ikut berpartisipasi dalam acara Oma Dina hingga mengirim pesan ke Salahuddien Gzeditor buku Laba-laba dan Jaring Kesayangannya. Buku itu sudah tercetak ulang kesekian kalinya dan masih saja dicari pembaca. Tentunya tidak sulit untuk memesan dalam jumlah besar guna dibagikan ke seluruh isi rumah dan kerabat.

Iklan

3 thoughts on “Ulasan buku: Serial Grandnie, Laba-laba dan jaring Kesayangannya

Add yours

  1. Halo Mbak Dina,

    Boleh tau Best Seller-nya hasil terjemahan Mbak Dina judulnya apa? Kalau saya pesan dari Mbak dapat ‘special price’ kan?

    Mohon di respon ya, saya tertarik banget untuk jadi seperti Mbak Dina “Officeless” yang tidak “Jobless” jadi pengen mulai belajar juga nih.

    Salam,
    Meita

    1. Hai Meita
      Wah kalau best-seller sih rata-rata buku yang kuterjemahkan ngakunya best seller hehehe… Kalau yang masuk rak buku laris di toko buku ada juga, tapi mungkin enggak di semua toko buku. Kalau aku pas ke toko buku terus buku terjemahanku dipajang di rak buku laris langsung deh aku jepret, misalnya Hex Hall, Poison dan Buku Ramuan Deliverance Dane. Mau punya penghasilan tanpa ngantor dengan menerjemahkan? Mulailah menerjemahkan dari sekarang 😀
      Oia, karena aku enggak menyimpan stok buku, aku enggak bisa ngasih harga khusus hehehe… Tapi banyak kok toko buku online yang memberikan diskon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: