Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Erobik otak

Terus terang aku lebih mendapat kenikmatan batin (taelaa) dari menerjemahkan novel. Apalagi kalau genrenya sesuai selera. Akan tetapi, tak bisa dihindari terkadang peluang datang pada saat yang tak terduga, dan mau tak mau harus #rangkapkerja (eh kenapa pake tanda pagar ya?). Pertama kali aku merangkap kerja karena ketidaksengajaan. Aku getol mengirimkan resume dan contoh terjemahan ke mana-mana tapi enggak laku-laku. Giliran ada yang lolos seleksi eee sekaligus dua. Jadilah aku kebut mengerjakan satu dulu setelah itu baru garap yang kedua. Tadinya enggak pede karena pernah punya pengalaman buruk sampai diputus oleh klien dan mendapat proyek Sangkuriang, tapi dijalani saja.

Pengalaman rangkap kerja kedua datang setelah hasil terjemahan itu dikirimkan dengan selamat. Ada teman penerjemah yang mencari beberapa orang buat ‘mengeroyok’ mega proyek penerjemahan non-buku. Aku daftar. Sebulan enggak ada kabar. Aku menerima tawaran menerjemahkan novel lagi. Sedang asik-asik garap novel, si teman menghubungi. Ya sudah, kupikir, enggak apa-apa. Rupanya proyek teman itu proyek kejar tayang. Jadi, otakku bagaikan melakukan erobik, melompat-lompat dari penerjemahan novel ke proyek teman.  Melelahkan. Tapi alhamdulillah bisa rampung juga, bahkan hasil terjemahanku untuk proyek keroyokan itu dijadikan contoh atau templat untuk diikuti gayanya oleh tim :D.

Meminta bala bantuan seperti ini ada risikonya. Kalau kualitas terjemahan orang yang kita mintai bantuan kurang sip ya harus banyak membetulkan. Belum lagi risiko yang bantuin ngebahas kongkalikong tersebut di forum terbuka. Kan enggak enak kalau sampai terbaca oleh klien. Dengar-dengar malah ada ‘sub-kontraktor’ yang memasukkan judul buku yang hanya sebagian dia garap ke dalam CV-nya. Lengkap dengan nama penerbit dan nama si pemberi kerja. Ya ampun. Itu kan sama sekali tidak etis dan melanggar kalau penerbit yang bersangkutan secara eksplisit melarang praktik tersebut di dalam kontrak kerjanya. Jadi, kalau akan melakukan cara ini, kita harus MEMERIKSA sebelum mengirimkan hasil terjemahan kepada klien, siap dengan segala risikonya agar tujuan akhir tercapai, yaitu pekerjaan selesai dengan kualitas baik sehingga klien happy.

Yang bikin mudah adalah karena anak-anakku dan bapaknya pengertian, enggak terlalu banyak cingcong minta ini-itu dan aku cukup bisa memperhatikan tugas standar emak-emak di sela-sela erobik otak.

Selain mempertahankan kualitas pekerjaan, kecepatan mengetik, erobik otak, dan pengertian keluarga, kita juga harus mengasah keterampilan tawar-menawar – baik honor maupun tenggat. Ini penting, agar keadaan unyu terkendali sehingga kita dan para bebeb engga sampai meng-gubrakkan diri –al4Y mode ON.

Sebelum menerima pekerjaan, simak apa saja yang perlu dipertimbangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 9, 2011 by in Di balik layar, Terjemahan.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: