Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Syair

Menerjemahkan syair, puisi atau lirik lagu sudah tidak diragukan lagi merupakan tantangan tersendiri bagi para penerjemah. Terkadang demi rima kita harus ‘berkhianat’ pada teks aslinya, namun masih setia kepada makna. Bercermin dari (dan mencuri pengalaman) penerjemah-penerjemah jagoan idolaku, kira-kira beginilah hasil terjemahanku yang tak seberapa ini.

Contoh 1

Teks sumber: Terjemahanku:
“Now that I am bound to the Spanish Shore,
Where thundering cannons loud do roar,
Crown my desire, fulfill my wish,
A pretty girl and a jug of this.”
“Kini aku sedang menuju ke pantai Spanyol,
Tempat meriam-meriam yang berdentum kencang menonjol,
Hargailah hasratku, penuhilah keinginanku,
Seorang gadis cantik dan segelas anggur.”

Sherlock Holmes & Baker Street Irregulars: Final Meeting, Tracy Mack & Michael Citrin

Contoh 2:

Teks sumber: Terjemahanku:
My mother says I must not pass
Too near the glass;
She is afraid that I will see
A little witch that looks like me;
With a red, red mouth to whisper low,
The very thing I should not know!
Ibuku mengatakan agar aku jangan melangkah
Terlalu dekat dengan kaca;
Dia khawatir jangan-jangan aku bertemu
Penyihir kecil yang mirip dengan aku;
Dengan bibir merah menyala dia berbisik lirih
Satu-satunya hal yang tak seharusnya kumengerti!

—Sarah Morgan Bryan Piatt

Hex Hall, Rachel Hawkins

Untung ‘nemu’ kamus rima ini: www.kamusrima.com dan www.rimakata.com.

Baca artikel Penerjemahan nursery rhymes dan puisi dalam novel di Blog Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia). Baca juga Crazy Password Poem yang jenius tulisan Poppy D Chusfani.

Iklan

15 comments on “Syair

  1. Rini Nurul Badariah
    September 27, 2011

    Hmmm… pola rimanya gimana, Mbak? Maaf aku agak bingung, A-b-a-b atau A-A-B-B?:)

    • dinabegum
      September 27, 2011

      Entahlah, aku ngikutin aslinya. Sajak pertama kayaknya A-A-B-B sementara sajak yang kedua sepertinya A-A-B-B-C-C. Eh, gitu gak sih? Begini deh kalo nerjemahin pake perasaan doang, ga pake teori….

  2. Rini Nurul Badariah
    September 27, 2011

    Ooh, nggak mesti plek jiplek sama, Mbak. Kalau aku bahas keduanya, jadi panjang nggak ya?:D
    Kalau Mbak Dina tak keberatan tentunya:)

    • dinabegum
      September 27, 2011

      Yes pleeasee…. kalo ga ngerepotin.

      • Rini Nurul Badariah
        September 27, 2011

        Aku copas dulu yang ini ya, Mbak:
        “Kini aku sedang menuju ke pantai Spanyol,
        Tempat meriam-meriam yang berdentum kencang menonjol,
        Hargailah hasratku, penuhilah keinginanku,
        Seorang gadis cantik dan segelas anggur.”

        Di sini rima kurang terasa. Karena hanya empat baris, boleh dicoba A-A-B-B dulu. Dan sebaiknya singkat, yang baris kedua itu kepanjangan:)
        Misalnya begini, aku tipe pengkhianat tulen ya:)
        “Kini pantai Spanyol kutuju,
        Dentum meriam di setiap laju.”

        • dinabegum
          September 27, 2011

          Hmmm…. ternyata ‘ketidaksetiaan’ itu di sini hasilnya jauh lebih indah. Selama ini aku kurang berani berkhianat kepada bahasa sumber…
          kalau kata kayak ‘anggur’, misalnya, itu bisa dikatakan berima dengan ‘keinginanku’ engga? Atau apakah harus sesuatu yang berakhiran ‘ur’ juga?

          • Rini Nurul Badariah
            September 28, 2011

            Oh, begitu rupanya. Iya Mbak, tidak usah ragu-ragu asal dapat satu kata (kalau kepepet) dari puisi aslinya dan diperindah:)
            Untuk yang baris keempat, sebaiknya yang berakhiran ‘ku’ sesuai ujung baris sebelumnya. Misal:
            ‘Junjung harapku, penuhi yang kumau
            Seorang dara cantik dan sebejana limau’.

            Kemudian puisi kedua, saranku pola rimanya tidak usah terlalu banyak, tetap A dan B, tidak sampai C, begitu:)

          • dinabegum
            September 28, 2011

            *terpesona*
            Terima kasih banyak agihannya.. Selama ini kalo udah ketemu puisi, sajak ato syair aku suka ‘keder’ banget… yah yang ini nasi sudah menjadi bubur tapi berikutnya… sikaaat!!! 😀

          • Linda B
            Juli 5, 2012

            aku juga tipe yang ga berani ‘berkhianat’, tp ternyata utk menghasilkan terjemahan cantik, kita musti berani sedikit ‘nakal’. Makasih Rini atas ilmunya 🙂

  3. Rini Nurul Badariah
    September 28, 2011

    Sami-sami, Mbak. Semangaaat ^_^

  4. dedehsh
    Desember 1, 2012

    pas nerjemahin cerita yg ada puisinya, saya suka, karena suka puisi ^^ tapi jadi bingung ketika harus memilih, antara setia tapi ga dapet rasa puisinya, atau dapet rasanya tapi berkhianat. ooh, makasih sudah memberi jalan keluar lewat tulisan n diskusi ini, mbak Din.. makasih juga untuk dua tautan yg di bawah itu.. jadi punya amunisi baru buat lanjut terjemahannya 😀 makasih juga buat mbak Rini ^^

    • Dina Begum
      Desember 1, 2012

      Tadinya kalau nemu puisi di dalam buku yang sedang kuterjemahkan nyaliku langsung ciut. Setelah berobat ke klinik… eh… setelah dapat masukan dari Rini dan membaca ulisan di tautan itu, aku jadi agak lebih pede 😉

  5. Ping-balik: Pelajaran Ketiga: Menerjemahkan Puisi | Chrysant

  6. Hasnaa
    Mei 27, 2013

    Sungguh, tak ada bahasa yang mampu menerjemahkan bahasa lainnya dengan paripurna…

    Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2011 by in Contoh terjemahan, Correct me if I'm wrong, Puisi, Terjemahan and tagged .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: