Proyek Sangkuriang

Selain anugerah, rezeki juga adalah ujian. Alangkan benarnya kalimat itu.

Sudah sebulan ini, aku menggarap pekerjaan berkat referensi seorang teman baik (trims, Pip – kalu sudah dibayar aku traktir segelas kopi Starbucks heheh). Mendekati tenggat, datanglah penawaran proyek Sangkuriang (yang waktunya sempiiiit banget). Dari awal aku sudah ragu karena mepetdotcom itu tapi kliennya bergengsi dan rupiahnyapun menggiurkan. Sepulang ketemuan sama calon klien, aku ngirim SOS ke adikku sama temanku yang dengan baik hatinya bersedia membantu (dengan hasil dibagi rata, tentunya). Aku beranikan diri mencoba.

Dasar kalau sudah ragu-ragu suka adaa aja kendalanya. Ternyata adikku yang tadinya siap siaga membantu ga muncul2. Aku telepon, dia iya iya aja tapi tetap sampai tulisan ini diunggah ga ada kabar beritanya. Dibandingkan sama tenggatnya, volume kerjanya juga enggak manusiawi. Eng.. ing.. eng… aku mulai panik. Temanku juga jadi ragu-ragu, sebenarnya mau diterusin atau enggak sih? Dengan baik hati my roomate menawarkan bantuannya. Selain menolong meminjamkan keahliannya mengerjakan grafik, dia juga mengambil alih tugasku menjemur pakaian dan memberi dukungan moral (memang aku ga salah pilih suami 😉 ). Tiba-tiba ada teman yang nelepon buat minta bantuan mengerjakan sebuah ‘proyek Bandung Bondowoso’. Dengan berat hati terpaksa aku tolak.

Entah kenapa ilham tetap menolak datang… sel-sel kelabuku ga mau diajak kerja sama sampai malamnya aku sulit tidur. Walhasil aku cuma bisa menyelesaikan satu dari seharusnya puluhan tulisan. Cuma satu! Mana bisa selesai dalam 5 hari (oke – lebih lama dari Sangkuriang but you got the idea, right?). That’s it! Mungkin aku ga boleh takabur, bite more than I can chew kata orang Sunda mah. Jadi, walaupun di Friendster horoscopeku hari ini mengatakan ‘There will be a spike on your writing skills today, so get ready’ akhirnya aku menyatakan untuk enggak sanggup bertingkah seperti Sangkuriang. Setelah itu hatiku legaa banget, rasanya hampir seperti habis melahirkan.

Iiih, kenapa si aku sampe segitunya? Bisa jadi nyaliku ciut karena ini kerjaan copywriting… keahlianku ‘kan menerjemahkan, beda. Pengalamanku dalam bidang copywriting cuma sebatas menjadi teman sebangku copywriter saja. Atau memang aku cuma pengecut aja, takut keluar dari zona nyamanku. Bisa juga aku ngeles dengan alasan menjaga profesionalisme. Karena aku sudah punya komitmen untuk menyelesaikan tugas akhir bulan ini, aku enggak mau janji itu rusak karena menerima pekerjaan lain yang begitu menguji nyali.

Yaa Gusti Allah, kalau Engkau membaca blog ini, bacalah saja alasanku yang terakhir. Jangan seretkan rezekiku, jangan macetkan orderan di masa depan. Aamiiin. Oia, Gusti, aku bersyukur telah kau berikan my roomate sebagai suamiku dan bukannya Dayang Sumbi #eh. Aku tak bakalan sanggup kalau harus membuat perahu dan danau dalam satu malam untuk mendapatkannya. Jangankan perahu, bikin tulisan aja aku tak becus….!

22 Juli 2008

Iklan

One thought on “Proyek Sangkuriang

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: