Kantong plastik

Sudah lebih dari dua tahun ini, semenjak aku pensiun awal dan menjadi pekerja lepas sehingga lebih sering berada di rumah, kalau belanja ke tukang sayur atau ke swalayan mini aku selalu membawa kantong kain untuk menaruh barang belanjaan agar mengurangi penggunaan kantong plastik menjadi sesedikit mungkin. Sampai-sampai pramuniaga di pasar swalayan mini langgananku sekarang sudah refleks tidak lagi meraih kantong plastik kalau aku membayar belanjaanku, padahal kan mereka terkenal royal dengan kantong plastik mereka. Kalau membeli makanan yang lewat di depan rumah pun aku selalu menolak jika penjualnya mengeluarkan kantong plastik, lebih baik memakai piring/mangkuk/gelas sendiri.

“Ih, deket aja, kok, Bang, pake kantong plastik segala.”

Maka tak heran kalau para tetangga dan tukang jualan makanan menganugerahkan julukan ‘Ibu Anti Kantong Plastik’ atau ‘Ibu yang trauma sama kantong plastik’ padaku. Padahal aku engga anti-anti amat. Kantong plastik tetap dibutuhkan, yang aku coba lakukan adalah mengurangi pemakaian yang berlebihan. Tanpa bosan aku selalu menjelaskan “…biar ga banyak sampah plastik di rumah. Plastik kan engga bisa hancur secara alami.”

Tak sedikit juga yang memuji, mengagumi sikapku yang konsisten dan mau ‘repot-repot segala’ ini. Yang memprihatinkan adalah belum ada yang mengikuti jejakku.

Tadi pagi ada sedikitnya tiga orang Ibu yang selalu mengucapkan kata-kata pujian saat kebetulan belanja bareng dan menambahkan ucapan yang menggambarkan pengetahuan mereka tentang sadar lingkungan, mengurangi sampah, sampai ke pemanasan global, meski terkesan hanya ‘potong dan tempel’ (‘cut and paste’ hihihi) saja entah dari tayangan infotainment mana (yang ini aku nyerah nih, apa padanan katanya).

Ketiga ibu itu selalu mengatakan bahwa mereka juga sudah mulai mengurangi penggunaan kantong plastik sambil dengan polosnya menerima kantong plastik setelah selesai berbelanja. Dalam hati aku ngedumel,

‘Kayaknya udah dua tahun kalian ngomongnya gitu, deh.’

Lalu tanpa merasa berdosa salah satu dari mereka melanjutkan dengan

“Coba semua orang kayak Ibu ini ya… pasti kita engga kena pemanasan global…”

Woooiiii!!! kenapa ga kalian mulai sendiri ajaaaa!! Ingin rasanya aku menunjuk-nunjuk kantong plastik gembung yang begelayut manja di tentengan ibu-ibu itu… kalau perlu pasang lampu sorot dan tanda panah gede seperti di film kartun Looney Tunes.

Bagaimana mau engga kena dampak pemanasan global kalau engga berusaha mencegahnya? Boro-boro mencegah, menghentikan kebiasaan buruk sederhana itu pun mereka tidak mau. Bisanya hanya ngomong doang. Tapi aku cuma mesem-mesem saja.

Ya sutralah, ne… aku engga mau terperosok ke dalam jurang caci maki. Tidak akan merubah keadaan, malah akan menimbulkan energi negatif saja…. Yang mau mengikuti jejakku, alhamdulillah. Yang mau memuji, silakan. Yang mau cuek juga silakan. Yang mau mencaci …eitttss jangan dong…daripada mencaci mendingan ikuti jejakku aja yu..yuk..yukkk!?

Baca juga tulisan tentang memanfaatkan barang bekas.

30 Januari 2010

Ke pasar: bawa tas belanja sendiri, juga kantong plastik bekas yang masih bersih untuk belanjaan basah.
Iklan

One thought on “Kantong plastik

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: