Paman Tom Sayang, Paman Tom Malang

Judul Asli: Uncle Tom’s Cabin
Penulis
: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penyunting:
Adi Toha
Penerbit
: Serambi
Bahasa asli
: Inggris

Kisah ini diawali dengan transaksi jual beli antara Tuan Shelby si pemilik budak dengan Tuan Haley, seorang pedagang budak. Karena terjerat utang, Tuan Shelby terpaksa menjual Tom, budaknya yang paling setia dan telah mengasuhnya sejak dirinya masih kecil, dan Harry, putra Eliza Harris yang masih kecil.

Setelah tak sengaja mendengar kabar yang mengerikan ini, Eliza pun nekat melarikan diri untuk menyelamatkan putranya. Pelarian Eliza yang kemudian dikejar oleh pemburu budak bayaran membuatnya menyeberangi sungai yang sedang bergejolak dengan melompati bongkahan-bongkahan es sambil menggendong putranya. Ia juga bertemu dengan orang-orang berhati mulia yang menolongnya hingga mempertemukannya kembali dengan suaminya yang juga seorang pelarian budak untuk bersama-sama berusaha mencapai Kanada.

Little Eva and Topsy by John R. Neill, 1908Sementara itu, Tom, yang akrab dipanggil dengan sebutan Paman Tom, mengalami petualangan yang tak kalah dramatisnya: dijual, dibeli oleh keluarga yang menyayanginya, tempat ia bertemu dengan Topsy, gadis sebatangkara yang unik, kemudian dijual kembali. Paman Tom tetap saleh hingga akhir hayatnya walau kehidupan tidak selalu ramah terhadap dirinya.

Pertama kali aku mendengar buku Uncle Tom’s Cabin ini yaitu dari film berjudul ‘The King and I’ yang diperankan oleh Yul Brynner & Deborah Kerr di TVRI entah tahun berapa, lalu di film produksi ulangnya, ‘Anna and the King’, yang diperankan oleh Chow Yun Fat & Jodie Foster tahun 1999. Di dalam film-film itu, kisah yang dipentaskan sebagai drama oleh putra-putri Raja Mongkut tersebut membuat salah seorang selir kesukaan sang raja, Tuptim, yang sudah punya kekasih sebelum dijadikan selir, membulatkan tekad untuk melarikan diri menemui kekasih yang dicintainya.

Bagiku buku ini bacaan berat yang sungguh menguras emosi. Karena selain ini buku klasik yang dengan sendirinya gaya bahasanya juga berbeda dengan novel masa kini yang biasa kulahap, kisahnya juga memilukan. Di samping itu, dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris, penulis menuturkan percakapan antar orang kulit hitam dengan aksennya dengan sedemikian rupa sehingga membuat aku berkerut kening membacanya. Beruntung sekali Serambi menerbitkannya dalam bahasa Indonesia sehingga aku bisa menikmatinya dengan utuh. Betapa tidak, coba bandingkan:

“I say, Sol,” said the woman, “is that ar man going to tote them bar’ls over tonight?”

???

“Katakan, Sol,” kata wanita itu, “adakah orang yang bakal mengangkut ke seberang malam ini?”

Ooooo.

Acungan jempol untuk penerjemah dan editornya.

Baru membaca setengah buku, aku sudah berkaca-kaca sedikitnya tiga kali. Semuanya di bagian kisah para ibu yang terpaksa kehilangan anak mereka entah itu karena terancam dijual—atau sudah dijual—sebagai budak atau hal lain yang lebih keji. Paruh kedua bukunya dihiasi dengan tak kurang dari dua genangan air mata lagi. Menariknya, penulis juga mampu menuangkan kisah dari sudut pandang si penjual budak yang memandang jual-beli manusia ini sebagai bisnis belaka dan ia ‘hanyalah bertahan hidup’ seperti yang diinginkan oleh semua orang. Sungguh membacanya membuat aku geram kepada praktik perbudakan di masa lalu dan perdagangan manusia di masa kini.

A Key to Uncle Tom's CabinSedemikian kuatnya kisah ini, sampai-sampai menurut Will Kaufman* buku ini ‘membantu meletakkan landasan perang sipil’ di Amerika. Konon, setiap rumah tua di New England dijamin punya buku Uncle Tom’s Cabin. Keberadaan buku ini seakan  mengumumkan bahwa keluarga ini berada di sisi yang benar pada Perang Sipil.**

Harriet Beecher Stowe menyebutkan sejumlah inspirasinya dan sumber-sumber untuk novelnya di dalam buku A Key to Uncle Tom’s Cabin (1853). Buku non fiksi ini tadinya dimaksudkan sebagai verifikasi terhadap klaim Stowe tentang perbudakan. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Stowe tidak membaca banyak dari buku yang dikutip sampai setelah ia menerbitkan novelnya.

*The Civil War in American Culture by Will Kaufman, Edinburgh University Press, 2006, page 18.
**The Physick Book of Deliverance Dane, Katherine Howe, 2009.

Iklan

2 thoughts on “Paman Tom Sayang, Paman Tom Malang

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: